Penyair Bingung.
Ada sebuah karya puisi beranonim, ia tak bernama
tanpa tahu siapa penemu maha karya itu sebenarnya
sebab sekata itu ia bisa berdiri tegak mengembara
dihutan rimba kata-kata, dirimbun dedaunan kata
Namun kata itu hilang seketika
ia pun bertekad mencarinya
menjelajah seluruh isi hutan rimba
jauh kedalam, ia terus mengembara
tanpa tiang penyangga susunan kata
gemetar pena ketika diguratkan sepatah kata:
"Jangan kecewa, ini adalah jalan penuh siksa"
Biarkan saja ia tembus kerumunan dedaunan kata
dan menyingkirkan rindu yang tersangkut didalam sana
meski ada ranting patah, tapi tak terlukis dipeta
adalah nama kekasih hatinya, yang hilang dari ujung pena
tapi ia terus berjalan tanpa lelah menelusuri rimba
menyibak ilalang dan menuju pintu rahasia kata
berharap bertemu taman kata seperti janji kekasihnya
Mencari segenggam serpihan kata yang telah hilang dirimba kata
tatkala pintu gerbang terbuka berharap cahaya rindu itu masih ada
disana, beradu kata demi kata sehingga terdengar sapaan begitu mesra
dan lembut dari bibir mugil merah delima, yang menunggu dipintu kata
Ia pun menyebrangkan sebatang ranting disungai kata
kala gerimis merintik lembut, mendayung sauh jauh sejauhnya
melewati tebing dan ngarai curam yang ada disampingnya
Ketika penyair itu kelimpungan tidak berdaya
mendapati rangkaian huruf-huruf dan bagian kata
itu hilang entah kemana ?, dan sembunyi dimana ?
Kini matanya berkaca-kaca, sedih tiada terkira
"benarkah kata itu tlah hilang ?, lirih dalam hatinya"
kenyataannya tak ada disana, ia tak menemukan jua
Mungkinkah sekata itu sengaja diterbangkan angin kelana
bersamanya, ia menyimpan kata itu dengan perban dimatanya
hingga sepatah kata itu diam dan bisu sepanjang musim tiba
tak mampu bicara, apalagi berteriak dari dekapan kekasihnya
Lirihnya, "mereka tak tahu, kata itu adalah inti paling nyata
dari turunan anak kata dari kata yang telah hilang, darinya
pasti aku sesali kekasih, karena aku tak sanggup bicara apa-apa
jika sepatah kata itu sudah pergi jauh berada diatas sana
tanpa sempat aku catat dan kubawa kembali pada singgasananya"
Diamkan sejenak diam terendap diketiadaan bahasa
yakin saja pada rintik-rintik lembut segera datang
saat menjadi saksi pergantian musim yang masih ranum
akan ada bisikan semilir angin melintas dari atas sana
menyerap kata hilang itu dan membawakan kembali padanya
Samar-samar diketika kau dalam pelukan angin senja
jauh mengembara melewati curam tebing dan ngarai
tak terkira jauhnya, sampai kata itu meninggalkanmu
sendiri diasingkan kata tapi tak tahu kebenarannya
tanpa mengenali realita, siapa gerangan kata itu ?
ingat! ingat kembali kata yang belum sempat ternoda!
Setiap kata melintas dibenak dan pikiran tak perlu dihadang
namun taklukan sebab azali rintangan, mana mungkin kau berani ?
biarkan saja ia menar-nari seirama dan menjaring titik-titik
mencapai inti kata itu sendiri, mana mungkin kau berani ?
Sebelum terserap disegala serap jadi sampah
sebab kata-kata itu nyata; sungguh tercatat disana
dan pernah terjadi tapi lenyap kedalam pasir
hilang dari album ingatan, o penyair jaman purba
namun bukan berarti kata itu lenyap dipasir kedua kali
karena masih ada angin, melintasi pasir penghisap air
tapi ingat! ingat kembali kata yang belum sempat ternoda!
Jangan perdulikan nasib kata, karena pasti berair mata
itu sudah menjadi bagian kisah, terbentang jarak spasi
diantara kata dan kata, dan berlalu lenyap tanpa kembali.
Kata-kata itu sudah nun jauh disana tak terkira jauhnya
kenali kata itu dengan sebenarnya sebelum meninggalkanmu
tapi ingat! ingat kembali kata yang belum sempat ternoda!
Entah, itu pic nya sapa...hehe
0 komentar:
Posting Komentar
hal yang paling kucari adalah persaudara'an dan pengetahuan.
mohon komen di bawah posting suwun