Juli 16, 2011
JADILAH PUTERA CAHAYA
Albert Einstein berkata bahwa CAHAYA itu ABSOLUT sedang RUANG dan WAKTU Relatif. Dan KECEPATAN bergerak suatu benda yang paling cepat yang ada di muka bumi adalah CAHAYA. Dan menurut Eistein, tidak ada yang lebih cepat daripada CAHAYA. Kecepatan CAHAYA adalah 300.000 km/detik. Sehingga jika ada sebuah benda yang bergerak lebih cepat daripada CAHAYA maka benda itu seolah-seolah akan menghilang. Seolah-olah tak pernah mewujud dimuka bumi, tapi ada.
Berdasarkan Rumus Albert Einstein tentang WAKTU, MATERI, dan KECEPATAN. Maka dimisalkan jika ada seorang Astronot dalam sebuah Roket meluncur dengan KECEPATAN mendekati CAHAYA, dalam kasus ini anggap 0,8C dimana C = 300.000 km/detik, sehingga kecepatan Roket tersebut adalah 0,8 x 300.000 km/detik = 240.000 km/detik. Sehingga setelah 30 tahun waktu berlalu di dalam Roket, ternyata sama dengan 50 tahun selang waktu dibumi.
Artinya, kalau Astronot itu berusia 30 tahun, lalu berekspedisi keluar angkasa selama 30 tahun dan kembali ke bumi lagi. Maka sesampainya di bumi usianya sudah mencapai 80 tahun sebagaimana teman-teman sebayanya yang telah mencapai usia 80 tahun, namun secara fisik si Astronot baru berusia 60 tahun. Dengan demikian, dapat dikatakan secara sederhana bahwa jika ada manusia yang bergerak mendekati KECEPATAN CAHAYA, maka ia akan awet muda.
Dan jika Astronot itu meluncur bersama Roketnya dengan Kecepatan yang sama dengan KECEPATAN CAHAYA atau melebihi Kecepatan Cahaya, maka nilai WAKTU dibumi menjadi tak terdefinisi, artinya Nilai Waktu diserahkan penuh kepada Allah SWT, atau dengan bahasa lain bahwa Astronot tersebut sudah tidak lagi terikat dengan Ruang dan Waktu, menghilang tapi ada.
Allah berfirman dalam Qs.24:35; Allah membimbing kepada CAHAYA-Nya siapa yang Dia kehendaki. Kalau Einstein mengatakan CAHAYA itu sifatnya ABSOLUT, maka CAHAYA ALLAH itu MAHA ABSOLUT, jauh sekali dari sifat relatif. Dan kalaulah kecepatan Cahaya itu mencapai 300.000 km/detik maka kecepatan Cahaya Allah pastilah tak tercapai dalam bayangan manusia. Dan kalaulah untuk menjadi "awet muda" itu harus bergerak mendekati kecepatan Cahaya, maka untuk tetap awet muda kita harus bergerak mendekati kecepatan CAHAYA ALLAH.
Bisakah kita bergerak mendekati Kecepatan CAHAYA ALLAH? Padahal untuk bergerak mendekati Cahaya Matahari saja tak mungkin rasanya. Maka jawabnya Bisa, jika Allah menghendaki. Perhatikanlah kembali Firman Allah Qs.24:35; Allah membimbing kepada CAHAYA-Nya siapa yang Dia kehendaki.
Bagaimana Caranya?
Mari sebelumnya kita kembali kepada pernyataan Einstein yang mengatakan bahwa CAHAYA itu ABSOLUT, Sedangkan RUANG dan WAKTU itu RELATIF. Artinya, untuk mendapatkan sesuatu yang ABSOLUT, maka sedapat mungkin kita harus menghindari yang RELATIF. Artinya, Untuk Mendapatkan CAHAYA maka kita harus sedapat mungkin keluar dari Ruang dan Waktu. Apa mungkin kita keluar dari Ruang dan Waktu untuk mendapatkan CAHAYA?
Iya, sekali lagi jawabannya adalah mungkin saja jika Allah menghendaki. Dan hal itu sudah pernah terjadi yakni pada peristiwa Isro' Mi'roj Nabi Muhammad saw, yang bergerak dengan kecepatan Buroq, yang pastinya jauh melebihi kecepatan Cahaya.
Dan Pada Peristiwa Tujuh Pemuda yang masuk ke dalam Gua, dan mereka melihat CAHAYA MATAHARI di dalam Gua, sehingga mereka tertidur 350 tahun, lamanya. Tapi mereka hanya merasa tinggal sehari atau sesaat saja.
Jadi untuk mendapatkan Cahaya itu maka kita harus keluar dari Ruang dan Waktu. Dan selama engkau berada dan terikat dengan dunia ini, maka engkau tak akan pernah bisa lepas dari Ruang dan Waktu. Untuk melepaskan dan membebaskan diri maka kita harus keluar dari dunia ini. Dan untuk keluar dari dunia ini maka kita harus memutuskan hubungan - hubungan dengan dunia. Dan cara untuk memutuskan hubungan diri dengan dunia ini, kita harus Menutup Pintu-Pintunya. Pintu - Pintunya itu adalah Panca Indera.
Tutuplah Panca Inderawi mu, bebaskan dan lepaskan diri dari dunia ini, masuklah ke Lubang Cacing Di dalam diri, maka engkau akan mendapat Cahaya-Nya.
Qs.18:16-17; ...Maka Carilah tempat berlindung ke Dalam Gua, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusanmu. Dan engkau akan melihat CAHAYA MATAHARI ketika terbit....
Apabila orang yang sudah mendapatkan CAHAYA-Nya, maka apabila ia sholat akan terlihat lama sekali. Padahal orang yang melakukan sholat tersebut sudah merasa cepat (perhatikanlah kasus Astronot atau Tujuh pemuda Ashabul Kahfi). Artinya, kalau anda sholat, dan sholat anda dalam liputan CAHAYA-Nya maka anda akan merasa waktu berlalu begitu cepat, padahal anda sholat sudah begitu lama. Namun ketika anda sholat, dan anda masih merasa waktu berjalan begitu lambat, padahal orang lain melihat sholat anda cukup cepat, berarti sholat anda belum berada di dalam liputan CAHAYA-Nya.
Agar sholat anda tidak menjadi riya' dihadapan makhluk Allah lainnya. Maka sholat khusus peminat CAHAYA ALLAH dihadirkan di malam hari, yaitu Tahajjud. Nah, silahkan berlama-lama ketika anda bertahajjud, nikmati lama anda yang sebentar itu bersama CAHAYA-Nya. Sedangkan untuk sholat wajib, dan terlebih lagi dikala anda menjadi Imam, maka anda disunnahkan melihat kondisi makmum, sehingga dilarang berlama-lama, karena bermacam-macam usia dan keperluan atas dunia. Jadi jika ingin lebih lama bersama CAHAYA-Nya, maka lakukanlah di malam hari.
Allah berfirman Qs.17:79; Dan pada sebagian malam hari tahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ketempat yang terpuji.
Salah satu mukjizat Nabi Muhammad, adalah diperjalankannya beliau oleh Allah melalui peristiwa Isra’ Mi’raj.
Banyak yang coba mengungkapkan peristiwa tersebut secara ilmiah, salah satunya melalui Teori Fisika paling mutahir, yang dikemukakan oleh Dr. Stephen Hawking.
Teori Lubang Cacing
Raksasa di dunia ilmu fisika yang pertama adalah Isaac Newton (1642-1727) dengan bukunya : Philosophia Naturalis Principia Mathematica, menerangkan tentang konsep Gaya dalam Hukum Gravitasi dan Hukum Gerak.
Kemudian dilanjutkan oleh Albert Einstein (1879-1955) dengan Teori Relativitasnya yang terbagi atas Relativitas Khusus (1905) dan Relativitas Umum (1907).
Dan yang terakhir adalah Stephen William Hawking, CH, CBE, FRS (lahir di Oxford, Britania Raya, 8 Januari 1942), beliau dikenal sebagai ahli fisika teoritis.
Dr. Stephen Hawking dikenal akan sumbangannya di bidang fisika kuantum, terutama sekali karena teori-teorinya mengenai tiori kosmologi, gravitasi kuantum, lubang hitam, dan tulisan-tulisan popnya di mana ia membicarakan teori-teori dan kosmologinya secara umum.
Tulisan-tulisannya ini termasuk novel ilmiah ringan A Brief History of Time, yang tercantum dalam daftar bestseller di Sunday Times London selama 237 minggu berturut-turut, suatu periode terpanjang dalam sejarah.
Berdasarkan teori Roger Penrose :
“Bintang yang telah kehabisan bahan bakarnya akan runtuh akibat gravitasinya sendiri dan menjadi sebuah titik kecil dengan rapatan dan kelengkungan ruang waktu yang tak terhingga, sehingga menjadi sebuah singularitas di pusat lubang hitam (black hole).“
Dengan cara membalik prosesnya, maka diperoleh teori berikut :
Lebih dari 15 milyar tahun yang lalu, penciptaan alam semesta dimulai dari sebuah singularitas dengan rapatan dan kelengkungan ruang waktu yang tak terhingga, meledak dan mengembang. Peristiwa ini disebut Dentuman Besar (Big Bang), dan sampai sekarang alam semesta ini masih terus mengembang hingga mencapai radius maksimum sebelum akhirnya mengalami Keruntuhan Besar (kiamat) menuju singularitas yang kacau dan tak teratur.
Dalam kondisi singularitas awal jagat raya Teori Relativitas, karena rapatan dan kelengkungan ruang waktu yang tak terhingga akan menghasilan besaran yang tidak dapat diramalkan.
Menurut Hawking bila kita tidak bisa menggunakan teori relativitas pada awal penciptaan “jagat raya”, padahal tahap-tahap pengembangan jagat raya dimulai dari situ, maka teori relativitas itu juga tidak bisa dipakai pada semua tahapnya. Di sini kita harus menggunakan mekanika kuantum.Penggunaan mekanika kuantum pada alam semesta akan menghasilkan alam semesta “tanpa pangkal ujung” karena adanya waktu maya dan ruang kuantum.
Pada kondisi waktu nyata (waktu manusia) waktu hanya bisa berjalan maju dengan laju tetap, menuju nanti, besok, seminggu, sebulan, setahun lagi dan seterusnya, tidak bisa melompat ke masa lalu atau masa depan. Menurut Hawking, pada kondisi waktu maya (waktu Tuhan) melalui “lubang cacing” kita bisa pergi ke waktu manapun dalam riwayat bumi, bisa pergi ke masa lalu dan ke masa depan.
Hal ini bermakna, masa depan dan kiamat (dalam waktu maya) menurut Hawking “telah ada dan sudah selesai” sejak diciptakannya alam semesta. Selain itu melalui “lubang cacing” (dengan kekuasaan Allah Swt) kita bisa pergi ke manapun di seluruh alam semesta dengan seketika.
Jadi dalam pandangan Hawking takdir itu tidak bisa diubah, sudah jadi sejak diciptakannya. Dalam bahasa ilmu kalam :
“Tinta takdir yang jumlahnya lebih banyak daripada seluruh air yang ada di tujuh samudera di bumi telah habis dituliskan di Luh Mahfudz pada awal penciptaan, tidak tersisa lagi (tinta) untuk menuliskan perubahannya barang setetes.”
Menurut Dr. H.M. Nasim Fauzi, sesuai dengan teori Stephen Hawking, manusia dengan waktu nyatanya tidak bisa menjangkau masa depan (dan masa silam). Tetapi bila manusia dengankekuasaan Allah, bisa memasuki waktu maya (waktu Allah) maka manusia melalui “lubang cacing” bisa pergi ke masa depan yaitu masa kiamat dan sesudahnya, bisa melihat masa kebangkitan, neraka dan shiroth serta bisa melihat surga kemudian kembali ke masa kini, seperti yang terjadi pada Nabi Muhammad, sewaktu menjalani isro’ dan mi’roj (Sumber : Gagasan dan Pemikiran, Dr. Nasim Fauzi).
Sebagaimana firman Allah :
Dan Sesungguhnya Muhammad Telah melihat Dia pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidrotil Muntaha. Di dekatnya ada syurga tempat tinggal…
(QS. An Najm /53:13-15)
Nampaknya dalam mengungkap Perjalanan Isra, Teori Hawking dengan “Lubang Cacing”-nya, sama logisnya dengan Teori Menerobos Garis Tengah Jagat Raya (sumber : (Perhitungan Matematis) Kecepatan BURAQ), namun meskipun begitu, teori Hawking, tidak semuanya bisa kita terima dengan mentah-mentah…
Se-andainya benar, Rasulullah diperjalankan Allah melalui “lubang cacing (worm hole)” semesta, seperti yang di-utarakan oleh Dr. H.M. Nasim Fauzi, harus di-ingat bahwa perjalanan tersebut adalah perjalanan lintas alam, yakni menuju ke tempat yang kelak dipersiapkan bagi umat manusia, di masa mendatang (surga).
Rasulullah dari masa ketika itu (saat pergi), berangkat menuju surga, dan pada akhirnya kembali ke masa ketika itu (saat pulang). Dan dengan mengambil teladan peristiwa Isra, kita bisa ambil kesimpulan :
1. Manusia dengan kekuasaan Allah, dapat melakukan perjalanan lintas alam, untuk kemudian kembali kepada waktu normal.
2. Manusia yang melakukan perjalanan ke masa depan, namun masih pada ruang dimensi alam yang sama, tidak akan kembali kepada masa silam (sebagaimana terjadi pada Para Pemuda Kahfi).
3. Manusia sekarang, ada kemungkinan dikunjungi makhluk masa silam, tetapi mustahil bisa dikunjungi oleh makhluk masa depan.
Hal ini semakin mempertegas, semua kejadian dimasa depan, hanya dipengaruhi oleh kejadian di masa sebelumnya…
Melihat Allah merupakan puncak kenikmatan ahli surga. Lebih mulia dari kenikmatan istana, kebun, buah-buahan, dan bidadari surgawi. Ketika para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, akankah kita kelak bisa memandang Allah?” Beliau menjawab, “Kalian akan meman...dang-Nya sebagaimana kalian memandang bulan purnama raya. Dan setelah itu para ahli surga tidak mau lagi memalingkan wajah mereka dari memandang Allah.” Subhanallah. Prof. Dr. Muhammad Tahir al-Qadri, ulama Pakistan pendiri Idarah Minhajul Qur’an di Lahore, memiliki kiat untuk bisa “melihat” Allah di dunia. Ia menguraikan makna ihsan secara berbeda dalam bukunya Islamic Philosophy of Human Life. Ketika malaikat Jibril bertanya tentang Iman dan Islam kepada Rasulullah saw. lalu dijelaskan oleh beliau, Jibril berkata, “Kamu benar.” Lalu Jibril bertanya lagi, “Apakah ihsan itu?” Rasul menjawab, “Ihsan adalah kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat Dia, maka bila kamu tidak bisa melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihat kamu.” Tetapi bagaimana kita bisa beribadah seolah-olah melihat Dia? Menurut Prof. Tahir al-Qadri, kalimat hadis tadi harusnya dipenggal secara berbeda, bukannya fa in lam takun tarohu, tetapi fa in lam takun, tarohu. Terjemahnya ialah, “Maka bila kamu tidak ada, kamu akan melihat Dia”. Allahu Akbar. Rupanya penghalang untuk bisa melihat Dia adalah sikap mendewakan diri. Ketika seseorang masih mempertahankan keberadaannya, masih mementingkan eksistensinya, masih mendahulukan kepentingannya, ia tidak akan bisa “melihat” Allah. Ia tidak akan bisa menghayati kebesaran-Nya. Ia tidak akan bisa mengerti keadilan-Nya. Ia tidak akan bisa menyaksikan keindahan-Nya. Ia tidak akan bisa merasakan kehangatan kasih sayang-Nya. Maka untuk bisa khusyu’ seolah-olah melihat Dia, kita harus meleburkan diri, menghancurkan diri, bagaikan gunung yang sirna mencair oleh tajalli, cahaya Allah. Semakin larut kita menghampakan diri dalam fana, semakin jelas wajah Allah bagi mata hati kita. Ihsan adalah Zero Mind Process. Lenyapkan dirimu, kamu akan “melihat” Allah.
"Ya Tuhanku, masukkanlah aku ke tempat masuk yang benar, dan keluarkanlah aku dengan jalan keluar yang benar dan datangkanlah kepadaku dari sisi-Mu Sulthan yang menolong" (QS 17 : 80)
Kuswanto Abu Irsyad