OMBAK
Sendiri, aku termenung ditepian lautan, sesekali merasakan semilir angin menyapa, berdersir lirih dan membangkitkan bulu roma menahan dingin-menggigil, dibelai kehangatan alunan ombak membuncah, digulung kegalauan pasang ombak meringkih, sesirnanya ketiadaan sang rembulan, kembali keperaduanya yang sepi dari keramain.
Memandangi dari kejauhan, tampak setetes kerinduan belum kering dari jelaga, yang tak pernah ada dan mustahil terlampaui sejak dini, lantas memberikan penawar dahaga kehampaan, kekosongan jiwa. Menyapa dengan rasa terharu dan iba-mengiba, bertanya apa yang sedang dicari dan dinanti diesok hari, ditepian sesunyi dan sekosong ini, melebur dan mendiami sudut remang-remang hati, mencoba mengajak menantang gelombang laut pasang, menghadang segala marabahaya dan keruwetan hidup.
Gelap pekat hati dan jiwa sedang menggelayuti kesendirian ini, binggung tercerembab dalam kubangan noda hitam, selalu menciutkan telinga dan mengindahkan nasehat yang sangat berguna, tanpa memperdulikan adanya keperluan yang seperlunya terbutuhkan. Aku mencoba bangkit dari duduk, berdiri dan menatap ke cakrawala jauh diatas sana, dan aku yakin, disanalah tampak rahasia-rahasia malam yang semakin cepat berlalu, tanpa terketahui apa maksudnya dari ini semua.
Semakin aku memandang pelukan rembulan, sang raja malam yang telah hilang. Hanya meninggalkan pekat hitam menyelimuti langit. Semakin tak tahu apa tujuan malam didatangkan, perlahan-lahan menetes demi setetes air kebodohan, yang berusaha mendinginkan hati dan jiwa, tubuhku mulai menggigil menusuk palung hati terdalam, tak kuasa merengkuh air yang sudah terbentang luas. Namun ketakutan mengatakan itu hanyalah bias bayang-bayang samar dan jangan dihiraukan, teruslah berjalan menyusuri tepian laut. Aku pun ingin mempertanyakan sejenak arti perkataan itu, agar tidak terkesan menirukan yang tersirat, bahkan dicap sebagai penipu-ulung. Karna aku menyadari bahwa perwujudan hanya ada kalau dilakukan dengan perbuatan yang membuahkan pengalaman. Ibarat mendapatkan besi kuning pun sudah merasa puas namun hanya tipuan semata, mengelabuhi matahati, dan menduga itu adalah kepingan emas murni.
Kembali kedasar hati terdalam, mengecam kesesatan tanpa pembuktian secara membabi buta, tanpa menyadari airmata yang mengalir membasahi ciptaanya yang elok, lalu berkata " Hamba seonggok manusia tak berguna, yang dianugerahkan hati, jiwa, akal dan pikiran, tapi tak mampu memfungsikan dengan sebaik-baiknya. Aku pasrahkan jiwa raga untuk engkau perintahkan kemanpun itu asal diselamatkan".
Gmeblunk-Nyentriks
Alam Unik
September 03, 2011
CAHAYA BULAN
Cahaya bulan tampakan wajahnya di tengah rambut,
Ibarat bunga bakung hitam menumpahkan air mata di atas mawar,
Kehalusan, kelembutan, dan keajaiban cinta tak tertangkap nalar,
Siapapun ingin merasakan cinta yang khusus dari sang pemuja,
Maka rendahkan hati serendahnya dihadapan Tuhan.
Cinta yang meletakan pada kerendahan hati,
Akan mampu membimbing untuk mengetahui diri sendiri,
Sehingga sebentuk tulus terlahir mencintai sepenuh hati,
Dari kesabaran yang sudah teruji penuh keyakinan,
Akan mematri sampai kedalam jantung kekasihmu,
Karna apa yang sedang dicari sudah tertemui padanya,
Dan tak akan ada yang memisahkan kecuali masa tiba.
Akan terasa berat sekali airmata bercucuran,
Bila tak ada niatan untuk berserah diri dan pasrah,
Apalagi memohon ampunan kepada Tuhan,
Karna cermin hati sudah dipenuhi debu disekujur bingkainya.
Cahaya bulan yang menyinari dimalam hari,
Tidak akan secantik bidadari yang turun dari langit,
Karna sinarnya tak mampu menerangi kerasnya hati,
Akibat dari kesombongan dan ke-Egois-an diri.
Sikap berbudi luhur menempatkan kearifan diri,
Yang telah merasuk dan terasakan kedalam jiwa,
Maka akan berbuah cinta yang tak terbatas,
Karna aneka warna penglihatan mampu mengungkapkannya,
Dan menguasai yang belum pernah diketahui sebelumnya.
Gemblunk-Nyentriks
Cahaya bulan tampakan wajahnya di tengah rambut,
Ibarat bunga bakung hitam menumpahkan air mata di atas mawar,
Kehalusan, kelembutan, dan keajaiban cinta tak tertangkap nalar,
Siapapun ingin merasakan cinta yang khusus dari sang pemuja,
Maka rendahkan hati serendahnya dihadapan Tuhan.
Cinta yang meletakan pada kerendahan hati,
Akan mampu membimbing untuk mengetahui diri sendiri,
Sehingga sebentuk tulus terlahir mencintai sepenuh hati,
Dari kesabaran yang sudah teruji penuh keyakinan,
Akan mematri sampai kedalam jantung kekasihmu,
Karna apa yang sedang dicari sudah tertemui padanya,
Dan tak akan ada yang memisahkan kecuali masa tiba.
Akan terasa berat sekali airmata bercucuran,
Bila tak ada niatan untuk berserah diri dan pasrah,
Apalagi memohon ampunan kepada Tuhan,
Karna cermin hati sudah dipenuhi debu disekujur bingkainya.
Cahaya bulan yang menyinari dimalam hari,
Tidak akan secantik bidadari yang turun dari langit,
Karna sinarnya tak mampu menerangi kerasnya hati,
Akibat dari kesombongan dan ke-Egois-an diri.
Sikap berbudi luhur menempatkan kearifan diri,
Yang telah merasuk dan terasakan kedalam jiwa,
Maka akan berbuah cinta yang tak terbatas,
Karna aneka warna penglihatan mampu mengungkapkannya,
Dan menguasai yang belum pernah diketahui sebelumnya.
Gemblunk-Nyentriks
Label:
puisi nyentrik
Langganan:
Postingan (Atom)