" BABENA AZZAM - ALAM UNIK - ASTOBLOG.BLOGSPOT.COM " Alam Unik: 2011-08-21
http://blokosutoo-alamunik.blogspot.com/

Agustus 26, 2011

misteri asal usul Gajah Mada

Adakah yang tak kenal dengan tokoh ini ? .. masyarakat Indonesia telah mengenal nama besar Gajah Mada sang Mahapatih Majapahit, orang pertama yang mampu mempersatukan Nusantara. akan tetapi sampai saat ini, setelah 7 abad sejak kebesaran namanya berkibar di seantero jagat Nusantara,

Tidak ada satu pun masyarakat Indonsia yang mampu mengungkap misteri asal-usulnya bahkan tentang akhir hidupnya. Bukan saja tentang asal-usul dan kematiannya, tentang strategi politik menuju posisi puncak di Majapahit serta strategi perangnya menguasai Nusantara juga masih menyimpan banyak misteri yang tak terjawab hingga kini.

Tidak ada satu sumber pun yang dapat dijadikan rujukan untuk mengetahui asal Gajah Mada dan siapa orang tuanya. Para sejarawan bersilang pendapat tentang asal usulnya. Ada yang menyebut Gajah Mada berasal dari Sumatera, tepatnya dari Minangkabau dengan asumsi bahwa kata Mada itu di Minangkabau berarti bandel, sementara di Jawa tidak ada kata Mada dalam kosa kata bahasanya.

Selain itu gelar Gajah juga diambil dari asal nama binatang yang berada di pulau andalas itu. Asumsi ini diperkuat dengan kedekatan hubungan antara Gajah Mada dan Adityawarman (pendiri kerajaan Pagaruyung), seorang pangeran Majapahit berdarah Sumatera, kemungkinan Adityawarman lah yang membawa Gajah Mada ke Majapahit.

akan tetapi sebagian lainnya menyebutkan Gajah Mada berasal dari Bali. Masyarakat Bali mempercayai cerita turun temurun yang menyebut bahwa ibu sang patih ini berasal dari Bali. Ada juga yang memperkirakan Gajah Mada berasal dari suku Dayak Krio di Kalimantan Barat, merujuk dari kisah moyang suku Krio tentang seorang Panglima besar dayak bernama Panglima Jaga Mada yang diutus ke Jawa Dwipa untuk menguasai tanah Jawa.

kemudian ada juga yang menyebut bahwa Gajah Mada itu berasal dari Mongol. Diperkirakan dia adalah salah satu pimpinan pasukan Mongol yang tertinggal. Ketika itu Raden Wijaya (pendiri Majapahit) mengalahkan pasukannya yang berniat menyerang Raja Kertanegara karena telah melecehkan Mongol dengan memotong telinga Meng Khi (utusan Mongol).

Misteri yang luar biasa adalah tidak diketahuinya secara pasti bagaimana rupa Gajah Mada sampai saat ini. Penemuan terakota pipi tembeb di Trowulan yang disebut-sebut sebagai perwujudan wajah Gajah Mada sampai saat ini juga belum terbukti.

Rupa Gajah Mada yang kita kenal sekarang ini juga menjadi polemik dan kontroversi karena sebagian orang menyebut bahwa penggambaran rupa Gajah Mada itu hanya rekaan Moh.Yamin pengarang buku “Gajah Mada Pahlawan Nusantara”. Lihat saja wajah Gajah Mada dan bandingkan dengan wajah Moh.Yamin, sangat mirip. Jadi kemungkinan besar rupa itu hanya rekaan Moh.Yamin yang menjelmakan wajahnya sebagai Gajah Mada.

Kita mengetahui awal kisah kariernya menuju posisi Mahapati berawal sebagai prajurit pengawal raja (bhayangkara). Dikisahkan Gajah Mada hanya seorang bekel bhayangkara pada masa pemerintahan Raja Jayanegara. Kemudian terjadi pemberontakan para Dharmaputra pimpinan Ra Kuti yang berhasil menguasai kerajaan.

Gajah Mada berhasil menyelamatkan sang Raja dari para pemberontak. Bahkan kemudian Gajah Mada berhasil merebut kembali kerajaan, membunuh Ra Kuti dan mengembalikan tahta ke tangan Jayanegara. Ini juga menjadi misteri, bagaimana cara seorang bekel bhayangkara mampu memukul kembali para pemberontak yang sedemikian kuat hingga bisa menguasai kerajaan. Setelah berhasil mendudukan kembali Jayanegara sebagai Raja, Gajah Mada kemudian diangkat menjadi patih di Daha dengan Raja Dyah Gitarja (adik tiri Jayanegara).

Kematian Jayanegara yang dibunuh oleh Ra Tanca juga menjadi misteri tentang Gajah Mada. Dengan matinya Jayanegara, Dyah Gitarja kemudian naik menjadi Raja bergelar Tribhuana Tunggadewi. Ini menimbulkan kecuriga'an bahwa pembunuhan Jayanegara memang telah direncanakan Gajah Mada sebelumnya dengan memakai tangan Ra Tanca, mengingat Gajah Mada lebih dekat dengan Dyah Gitarja ketika di Daha dan kematian Jayanegara menguntungkan bagi Gitarja. Selain itu, ketika Ra Tanca membunuh Jayanegara, tabib itu langsung dibunuh oleh Gajah Mada tanpa dihadapkan ke muka sidang pengadilan. Setelah Gitarja menjadi Raja, kemudian Mahapatih Arya Tadah memberikan jabatannya kepada Gajah Mada. Konspirasi ini dirasa mirip dengan konspirasi peralihan kekuasaan di zaman Indonesia modern (baca: konspirasi tahun 65).

Masa pemerintahan Hayam Wuruk menjadi masa-masa keemasaan Majapahit dibawah pemerintahan Gajah Mada. Posisi Gajah Mada sebagai Mahapatih, jabatan tertinggi setelah Raja secara otomatis memberinya kekuasaan yang sangat luas mengingat Raja hanya sebagai lambang negara sementara Mahapatihlah yang memegang pucuk pemerintahan dan militer. Ketika itu Majapahit telah menguasai Nusantara, dari Semenanjung Malaya, Tumasik (Singapura), Swarnadwipa, Sambas, Brunei, Bali, Lombok hingga Siam. Untuk menguasai negeri-negeri maritim ini Gajah Mada membangun armada perang yang luar biasa kuat dibawah pimpinan Laksamana Nala. Tapi sampai saat ini bagaimana kebesaran armada dan bagaimana strategi perang sang Mahapatih tidak kita ketahui detail sebagaimana strategi perang Sun Tzu yang kesohor itu. Mungkin jika kita mengetahui tentang strategi perang Gajah Mada, pastilah tidak kalah hebatnya dari Art of War nya Sun Tzu itu.

Sebagai kepala pemerintahan, keberhasilan Gajah Mada membangun lay out ibukota Majapahit yang nyaris sempurna, benteng-benteng hingga kanal-kanal air membuat kita berpikir keras bagaimana dan dari mana ia memperoleh ilmu pengetahuan itu. bahkan KOMPAS pernah membahas tentang kecanggihan sistem pengairan Majapahit. Sistem pengairan ini bahkan bisa menjadi acuan bagi pemerintah DKI sebagai salah satu solusi mengatasi banjir saat ini. Peradaban yang luar biasa maju di zamannya. Lantas pertanyaannya, dari mana dia mendapat pengetahuan tentang itu ?.., kembali ini sebuah misteri.

Selanjutnya adalah misteri tentang perang Bubat. Kemungkinan cerita tentang perang yang mencoreng nama Gajah Mada ini hanya cerita karangan Belanda yang ingin memecah belah. Sebab hanya bersumber dari Syair Kidung Sundayana, sementara sumber dari prasasti atau Negarakertagama sendiri tidak menceritakan hal ini. Belanda melakukan ini sebab ingin memecah belah kekuatan Raden Patah (keturunan Majapahit dari Brawijaya) yang bergabung dengan kerajaan Sunda melawan Belanda. Ini juga salah satu misteri Gajah Mada yang tak terungkap.

Akhir hidup Gajah Mada juga tidak jelas. Gajah Mada tidak diketahui mempunyai istri dan keturunan. Tidak diketahui juga bagaimana dia mangkat, dimana dikebumikan dan dimana ia menghabiskan sisa hidupnya setelah tidak menjadi Mahapatih. Tidak ada satu pun candi yang didirikan untuk mengenang dirinya. Meski banyak prediksi dan perkiraan tentang makam Gajah Mada, petilasan dan lain sebagainya, tapi ini belum juga bisa dibuktikan secara ilmiah.

Tokoh besar ini menjadi salah satu misteri besar bangsa ini.

(Diturunkan oleh: Yousri Nur Raja Agam dari artikel Erwin Yahya)





Salah Satu Kisah tentang Ratu Kidul


Menurut yang di yakini orang Jawa terhadap Kanjeng Ratu Kidul memang telah mengakar hingga sekarang meski Zaman sudah berganti modern. Apalagi bagi kalangan masyarakat Jawa pesisir selatan, Kanjeng Ratu Kidul sangat akrab dan bahkan di kagumi dalam dunia batinnya. Berbagai acara ritual maupun acara tradisi sering diadakan untuk memujanya.
Orang Jawa memiliki keyakinan kuat kepada Kanjeng Ratu Kidul sejak Panembahan Senopati melakukan pertemuan mistis dengan Ratu Kidul di Cepuri, Parangkusuma. Hal ini sampai melegitimasi keraton Yogyakarta bahwa Ratu Kidul adalah sosok yang berkekuatan magis yang patut dipuja. Pemujaan oleh keraton Yogyakarta dan Surakarta sebagai trah Mataram adalah dengan melakukan labuhan khususnya pada bulan Suro. tujuan Labuhan adalah sebagai perwujudan pisungsung kepada Ratu Kidul agar tak mengganggu ketenteraman kerajaan. dan sebagai harapan melalui pemujaan tersebut Ratu Kidul tetap setia pada kerajaan dan bisa berperan membantu apa yang diinginkan oleh kerajaan.

Kanjeng Ratu Kidul adalah penguasa laut/pantai selatan. Karenanya, sepanjang deretan laut selatan, seperti pantai Parangtritis, Baron, Pandansima, Kukup dan sebagainya, di yakini sebagai wilayah kerajaan Ratu Kidul. Maka, di daerah Cilacap juga sering dilakukan sedhekah laut, yang intinya juga memberikan pengorbanan kepada Ratu Kidul degan ritual yang di yakini masyarakat pesisir sekitar. Jika tak diberi pisungsung, orang Jawa yang meyakini merasa khawatir jika hidup dan penghidupannya terganggu oleh kekuatan siluman. Apabila Ratu Kidul sebagai penguasa siluman diberi pengorbanan diharapkan bisa membantu hidup orang Jawa khususnya di wilayah pesisir selatan.

Sebagian orang Jawa sering mengatakan dan menghubung hubungkan kecelakaan/musibah yang berhubungan dengan air, seperti hanyut terbawa banjir, terbawa ombak, dianggap sedang diinginkan atau orang jawa biasa mengatakan sedang di
kersa'ake oleh Ratu Kidul. Posisi sosial Ratu Kidul di atas pemikiran orang Jawa , sehingga dalam segala tindakan orang Jawa memberikan caosan kepada Ratu Kidul.

Menurut salah seorang paranormal yang tinggal di Pleret, Bantul, Ratu kidul bukanlah jin atau setan, melainkan Dewa (Twikromo, 2000:56). Dia juga sering dianggap sebagai raja super yang menjadi wakil Illahi. Maka tidaklah mustahil dengan keyakinan sebesar itu kalau orang Jawa banyak yang minta berkah kepadanya. Dalam
Babad Tanah Jawi dikisahkan bahwa putera kerajaan Pajajaran bernama Dewi Suwidi amat cantik. Dia senang bertapa sehingga banyak jejaka yang ditolaknya. Karena itu, sang raja menjadi marah karena puterinya tak segera menikah. Diusirlah sang Dewi dari kerajaan.

Dewi Suwidi pergi ke Gunung Kombang dan bertapa di situ. Sampai-sampai dia mengubah penampilannya seperti laki-laki. Karena di atas gunung itu terdapat pohon cemara, dia lalu bergelar Ajar Cemara Tunggal. Pada waktu itu ada jejaka bernama Raden Sesuruh yang datang. Jejaka ini diberi wangsit oleh Ajar Cemara Tunggal agar berjalan ke timur, dan kelak jika menemukan buah kemaja yang pahit, di situ akan dia harus membuat kerajaan. Suatu saat Ajar Cemara Tunggal merubah rupanya menjadi sosok wanita cantik sehingga Raden Sesuruh jatuh cinta. akan tetapi Sang Dewi menolaknya, dia justru berlari ke laut selatan dan kelak menjadi raja di sana. Akhirnya, dia dikenal sebagai Ratu Kidul hingga sekarang. Meskipun dia tak mau dipersunting oleh Raden Sesuruh, namun dia tetap berniat membantunya. Jika Raden Sesuruh membutuhkan, dia akan membantu apa yang diinginkan.
Dari kisah tersebut tampak bahwa Ratu Kidul memiliki kehebatan tertentu. Dia adalah sosok yang dipuja sejak kerajaan Majapahit belum berdiri, hingga kerajaan Mataram. Keraton Yogyakarta membagi struktur kehidupan menjadi mancapat. Keraton terletak di tengah, sedangkan di sebelah selatan adalah Ratu Kidul, utara adalah Gunung Merapi, sebelah timur Gunung Lawu diperlawankan dengan Kahyangan Dlepih. Keraton sebagai pancer (pusat kendali) selalu melakukan labuhan berupa pisungsung di empat wilayah tersebut. Keempat wilayah itu dipercaya sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam struktur keraton.

Salah satu kisah ini dari sekian banyak kisah telah mendarah daging terhadap seluruh lapisan masyarakat mulai dari trah atas, menengah hingga bawah secara sugesti fikir maupun bhatiniyah sehingga mengakar sampai alam bawah sadar

Bahkan ada beberapa kasus adanya kamar khusus Kanjeng Ratu Kidul salah satunya di Hotel terbesar di pelabuhan Ratu yaitu di hotel Samudera. Hotel yang telah di kenal oleh banyak turis dari lokal hingga manca negara. Kamar khusus ini memang sengaja di sediakan oleh pemilik Hotel yang konon katanya karena sebab perminta'an dari kanjeng Ratu kidul.

ada kelanjutan dari kisah KANJENG RATU KIDUL dan beberapa kisah pengalaman seseorang yang telah menyaksikan kehadirannya. bila ingin melanjutkan klik judul di bawah ini >>>>

Agustus 24, 2011

CIRI WANITA YANG MENGGAIRAHKAN

nikmatnya bercinta terletak pada sempurnanya permainan/perlakuan, dalam hal ini kekompakan sangatlah dibutuhkan. Memiliki pasangan yang hebat dan mengerti setiap keinginan anda sudah tentu akan semakin memudahkan anda mencapai puncak orgasme.

Menyimak lebih ke dalam lihainya pasangan saat berada diatas ranjang, oleh sebab itu adalah suatu kewajiban bagi anda untuk mengetahui ciri-ciri khusus wanita yang menggairahkan saat berada bercinta, menurut berita yang di lansir Askmen, sebagai berikut ciri ciri wanita yang anda perlu ketahui :

Selalu penuh kesegaran
Hal terpenting bagi kaum hawa sebelum bercinta di mulai dengan sebuah kesegaran. Janganlah heran bila pasangan seperti ini akan selalu tampil segar dan bersih di hadapan anda, karen ini merupakan salah satu pertanda dia ingin mengemas momen khusus dengan anda. Kulitnya yang bersih dan lembut serta semerbak harum tubuhnya yang tak lain untuk memikat perhatian anda. Terlebih ketika anda menyentuh area sensitif miliknya, anda tak hanya akan merasakan kesegaran namun dia pun akan semakin bersemangat dengan aksi nakal anda.


Ahli bermain oral dan Memberikan kejutan istimewa merupakan salah satu upayanya mengikat konsentrasi anda, secara perlahan pasangan mulai menggunakan jemari tangannya meraba-raba sekujur tubuh anda hingga pada bagian terpenting dan dalam hitungan waktu mulai mengarahkan mulutnya memberikan sensasi oral untuk anda. Agar semakin bergelora, biasanya para wanita pun melancarkan sensasi oral sambil menatap kedua mata anda. Alhasil, sensasi pun semakin kuat terasa hingga anda merasa lemas dibuatnya.

Membuka petualangan yang baru
Apabila selama ini pasangan anda selalu terlihat malu-malu dan menunggu sikap agresif anda, justru kini dia tak lagi pasif, melainkan secara spontan membuka petualangan baru dengan segala bentuk kenakalan yang membuat anda tak tahan. Mulai dengan melancarkan jurus dirty talk sampai menampilkan tarian erotis.
Dia mengusulkan ide bercinta terbaru
Di balik keluguan dan kepolosan dirinya, tanpa anda sadari pasangan menyimpan segudang ide brilian menikmati kencan seks yang menyegarkan bersama anda. Beragam ide nakal seperti menikmati kencan seks di atas meja atau berbagai lokasi yang belum anda pernah coba. Bahkan tak ragu-ragu ia mulai mempelajari tehnik-tehnik bercinta sehingga saat berlangsung tak lagi canggung dan di tambah dengan berbagai improvisasi agar suasana semakin memanas.

Pose sensual dan menggairahkan
Tampil ?menantang’ dihadapan anda bukan hal yang sulit bagi dirinya. Pasangan anda yang dulu selalu seksi dengan balutan baju tidur yang mini, kini sudah ditanggalkan dan beralih pada pose-pose sensual. Anda pun akan semakin leluasa melihat pasangan tanpa di balut sehelai benangpun, berpose sensual di atas ranjang. Bahkan saat di depan anda dia tak ragu-ragu bercermin menujukkan keseksian yang melekat pada tubuhnya.

Atribut seksi yang tak pernah ditinggalkan
Tak hanya berpose sensual dengan tanpa busana, untuk memeriahkan pertempuran pasangan anda akan menggali berbagai ide cemerlang misalnya mulai mengenakan berbagai atribut seksi untuk membangkitkan hasrat anda yang tak kunjung bergelora. Jangan heran bila melihat pasangan anda berpose seksi dengan lingerie lengkap dengan stocking dan sepatu high hells atau dengan atribut lain seperti topi dan tongkat ala pesulap heheheh, tapi manfaatkan momen ini sehingga anda tak akan mudah untuk melupakannya.

Pintar bermain ?seks kilat’
Meski anda dan pasangan terbentur pada masalah waktu, namun hal ini bukan perkara yang sulit bagi pasangan. Pasalnya sederat aksi mengagumkan siap membawa anda pada indahnya pertempuran sehingga anda tak lagi mampu menolak ajakannya untuk bercinta meski waktu yang tersisa hanyalah dalam hitungan menit. Nikmati setiap momen ini agar anda dan pasangan terasa tetap hangat dan bergelora.


Warning !!!! pengetahuan ini hanya untuk dewasa .. yang masih merasa anak anak jangan mencoba untuk membaca ..... selamat berbahagia bersama pasangan anda ...

KISAH TENTANG TRANSFORMASI ELANG

Ada hikmah besar di balik perjalanan kehidupan seorang manusia .. di mana pada masa masa seperti sekarang ini, kesulitan hidup secara materi yang membelit terkadang mampu menjadikan seorang manusia yang sebelumnya kuat bisa menjadi lemah tanpa daya ( putus asa )
Haruskah semua itu terjadi pada diri ini ?

rasa sakit, derita, putus cinta, kehilangan seseorang yang di puja, terkadang menjadikan seseorang melakukan sesuatu yang di luar kesadaran .. seakan semua itu adalah sebuah momok atau suatu hal yang menakutkan. padahal di balik semua kejadian itu Alloh telah mempersiapkan sebuah Hikmah Besar ..

Sebagai Sumber motifasi salah satunya adalah dari se ekor burung Elang .. heeem hanya se ekor Elang apalah hebatnya di bandingkan seorang manusia yang asalnya dari se onggok daging dari pada se ekor elang yang asalnya dari sebuah telor.

terserah dari sisi mana kita mau menyikapinya.

Di usia 40, elang harus memutuskan apakah ia akan menunggu kematian karena paruhnya hampir menyentuh dada, cakarnya sudah tidak tajam dan sayapnya terlalu berat hingga ia tak bisa terbang tinggi ATAU ia harus menjalani 150 hari yang menyakitkan untuk bisa hidup 30 tahun ke depan........

Si Elang tua harus pergi ke gunung batu,,menyendiri,,selama 150 hari.
Ia harus mematuk matukan paruhnya ke batu gunung hingga patah, hingga tumbuh paruh baru,
dengan paruh barunya ia harus mencabuti cakarnya sendiri hingga tumbuh cakar baru, sebuah proses yang menyakitkan,
dengan cakar barunya ia mencabuti bulu sayapnya satu demi satu hingga tumbuh bulu sayap baru.
Setelah menjalani 150 hari yang menyakitkan ia siap terbang tinggi,,,,menyongsong 30 tahun hidupnya yang akan datang.

Kadang kala,,kita harus membuat keputusan yang berat lagi menyakitkan untuk sebuah perubahan yang baik,,,,,,

catatan : LINA

UCAPAN SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI/LEBARAN

setelah semalaman melekan mencoba untuk merajut dan berbagi kesenangan kebahagia'an dan keindahan akhirnya KOMSAN kali ini bisa ZZZzzzzzzz pulas hehehe
beberapa artikel tentang renungan dan beberapa artikel umum laiinya yang berusaha kami kemas sesederhana mungkin buat panjenengan ( asline sing nduwe Blog gur arep omong nek awake ra pandai dalam menyusun sebuah kalimat qiqiqi ) maklumin aja zaaah .... hoooaaammhh antuk tapi di betah betahke ....

Kumpulan ucapan selamat lebaran ini asli loh hasil dari KOPITUBRUK alias KOP... dari berapa blog pren ... semoga bermanfa'at untuk bertegur sapa agar tetap terjalin Silaturahmi antar sesama ..... monggo silahkan dipilih dikopi paste juga boleh sama sekali ndak di larang ..

  • Salah kata pernah terucap,salah sikap pernah terungkap,kembali fitrah selalu di harap Selamat Idul Fitri 1428H, Minal aidin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin
  • Bila ada kata terselip dusta,ada sikap membekas lara,dan langkah menoreh luka,semoga msh ada maaf tersisa.Taqobalallahu Minna Wa Minkum,Minal Aidin Wal Faidzinn.
  • Untuk semua hal yang salah dari diriku yang selalu kulakukan dan untuk semua hal yang merepotkan yang selalu kulakukan,,dan untuk semua bentuk pengorbanan yang selalu kuminta dari dirimu, ………….. mohon maaf dengan sangat.
  • Keindahan ramadhan tetap bersinar seiring datangnya hari yang fitri. Selamat Idul Fitri 1428H Minal aidin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin terucap setulus hati untukmu sahabat.

  • Menyambung kasih, merajut cinta, beralas ikhlas, beratap doa.Semasa hidup bersimbah khilaf & dosa, berharap dibasuh maaf.Selamat Idul Fitri

  • Sebelas bulan kita kejar dunia,kita umbar napsu angkara.Sebulan penuh kita gelar puasa,kita bakar segala dosa.Sebelas bulan kita sebar dengki dan prasangka,Sebulan penuh kita tebar kasih sayang sesama.Dua belas bulan kita berinteraksi penuh salah dan khilaf,Di hari suci nan fitri ini, kita cuci hati, kita buka pintu maaf.Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin

  • Bila kata merangkai dusta..Bila langkah membekas lara…Bila hati penuh prasangka…Dan bila ada langkah yang menoreh luka.Mohon bukakan pintu maaf…Selamat Idul Fitri Mohon Maaf Lahir Batin

  • Fitrah sejati adalah meng-Akbarkan Allah..Dan Syariat-Nya di alam jiwa..Di dunia nyata, dalam segala gerak..Di sepanjang nafas dan langkah..Semoga seperti itulah diri kita di hari kemenangan ini..Selamat Idul Fitri Mohon Maaf Lahir Batin

  • Waktu mengalir bagaikan air Ramadhan suci akan berakhir Tuk salah yg pernah Tuk khilaf yg sempat terucap Pintu maaf selalu kuharap Met Idul Fitri

  • Jika HATI sejernih AIR, jangan biarkan IA keruh,
    Jika HATI seputih AWAN, jangan biarkan dia mendung,
    Jika HATI seindah BULAN, hiasi IA dengan IMAN.
    Mohon Maaf lahir Dan batin

  • Andai jemari tak sempat berjabat.
    Jika raga tak bisa bersua.
    Bila Ada kata membekas luka.
    Semoga pintu maaf masih terbuka.
    Selamat Idul Fitri

  • Faith makes all things possible.
    Hope makes all things work.
    Love makes all things beautiful.
    May you have all of the three.
    Happy Iedul Fitri.”

  • Sebelas bulan Kita kejar dunia,
    Kita umbar napsu angkara.
    Sebulan penuh Kita gelar puasa,
    Kita bakar segala dosa.
    Sebelas bulan Kita sebar dengki Dan prasangka,
    Sebulan penuh Kita tebar kasih sayang sesama.
    Dua belas bulan Kita berinteraksi penuh salah Dan khilaf,
    Di Hari suci nan fitri ini, Kita cuci hati, Kita buka pintu maaf.
    Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir Dan batin


  • Sejalan dengan berlalunya Ramadhan tahun ini
    Kemenangan akan kita gapai
    Dalam kerendahan hati ada ketinggian budi
    Dalam kemiskinan harta ada kekayaan jiwa
    Dalam kesempatan hidup ada keluasan ilmu
    Hidup ini indah jika segala karena ALLAH SWT
    Kami sekeluarga menghaturkan
    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H
    Taqobalallahu minna wa minkum
    Mohon maaf lahir dan bathin

  • Sebelum Ramadhan pergi
    Sebelum Idul fitri datang
    Sebelum operator sibuk
    Sebelum sms pending mulu
    Sebelum pulsa habis
    Dari hati ngucapin MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN
    MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN


  • Teriring gema takbir memuji kebesaran Allah SWT, kami mengucapkan ‘Selamat hari raya idul fitri, mohon maaf lahir dan batin’Assalamualaikum. Saya haturkan selamat idul fitri, mohon maaf atas segala salah yang banyak saya sengaja atau tidak selama ini baik yang bersifat lahir atau batin. Semoga kita jadi lebih baik. AMIN

  • Kata telah terucap, tangan telah tergerak, prasangka telah terungkap, Tiada kata, Kecuali “saling maaf” jalin ukhuwah kasih sayang raih indahnya kemenangan hakiki, Selamat Hari Raya Iedul Fitri

  • Sejalan dengan berlalunya Ramadhan tahun ini
    Kemenangan akan kita gapai
    Dalam kerendahan hati ada ketinggian budi
    Dalam kemiskinan harta ada kekayaan jiwa
    Dalam kesempatan hidup ada keluasan ilmu
    Hidup ini indah jika segala karena ALLAH SWT
    Kami sekeluarga menghaturkan
    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H
    Taqobalallahu minna wa minkum
    Mohon maaf lahir dan bathin




Agustus 22, 2011

Yunus Emre : Dalam Diri Ini

Yunus Emre

Tanpa sengaja, kami temukan tempat pencerahan jiwa
kami menyaksikannya: jasad

Langit demi langit yang berpusar,
lapisan-lapisan bumi yang tergelar,
kami menemukannya dalam jasad ini.

Putaran malam dan siang, planet serta gemintang
kata-kata suci yang ditorehkan dalam keping-keping lempung,
gunung yang didaki Musa, serta tempat-tempat pemujaan
kami menemukannya dalam jasad ini.

Taurat, Mazmur, Injil dan Al-Qur’an
semua yang tertulis dalam kitab-kitab itu,
kami menemukannya ada dalam jasad ini.

Semua berkata, kata-kata Yunus adalahhaqq
Di mana pun kau inginkan, di sana ada Al-Haqq
Dan kami pun menemukannya:

dalam diri ini.

::

Yunus Emre (1240–1321)

Diterjemahkan oleh Herry Mardian.
Thanks to Alfathri Adlin for providing the material

Syech Siti Jenar Dan Para Wali Alloh

Belakangan ini, banyak studi tentang Siti Jenar meramaikan semarak tasawuf di negeri kita. Diantaranya Kajian Kitab Serat dan Suluk Siti Jenar / Muhammad Sholikhin, Syekh Siti Jenar : Pengaruh Tasawuf Al-Hallaj di Jawa / Sudirman Rebba, Makrifat Siti Jenar / Prof.Dr. Abdul Munir Mulkha, S.U, Syekh Siti Jenar : Makana Kematian / Achmad Chodjim dan salah satu Novel Suluk Abdul Jalil, Perjalanan Ruhani Syeh Siti Jenar / Agus Sunyoto, dll.

Apakah ini yang membuat ajaran Siti Jenar disesatkan? Betulkah ia melampaui syari’at? Kenapa harus bersitegang dengan Walisongo, dan benarkah ketegangan itu? Bukankah Dewan Wali juga sudah mencapai maqam manunggaling kawula gusti? Berikut kutipan teks dalam Serat Centhini atau Suluk Tambangraras saat Seh Siti Jenar dan para Dewan Wali berdiskusi mbabar sesotyo.
ASMARADANA

Suhunan ing Bayat nguni, sung carita marang ingwang, eyangmu buyut kalane, kumpulan lan wali sanga, samya (m)babar sesotya, trusing ngaji pan akumpul. aywa ana parebutan.
Dahulu Suhunan ing Bayat (Sunan Têmbayat), pernah memberikan cerita kepadaku, cerita tentang Eyang Buyut-mu (Sunan Têmbayat), (kala) tengah berkumpul dengan para Wali semua, mewedarkan mutiara ilmu, (Sunan Giri mengingatkan) Saat nanti telah berkumpul, jangan saling berebut kebenaran sendiri-sendiri.

Kinarya gita ing kawi, ing Giri Gajah enggone, tatkala aguguneman, para wali sasanga, ing Argapura (ng)gennipun kadhaton ratu agama.
Dibuat sebagai pelajaran luhur, di Giri Gajah tempatnya, tempat untuk bermusyawarah, oleh para Wali sembilan, di Argapura tepatnya, letak keraton Sang Ratu Agama (Sunan Giri).

Wali sadaya tinari, dennira Prabu Sarmata*), Suhunan Benang tinaros, myang Suhunan Kalijaga, Suhunan Ngampeldenta, Suhunan Kudus tinantun, kalawan Seh Siti Jenar.
Seluruh Wali diminta hadir, oleh Prabu Satmata (Sunan Giri), Suhunan Benang diminta hadir pula, lantas Suhunan Kalijaga, lantas Suhunan Ngampeldhênta (Sunan Ampel), Suhunan Kudus juga diminta hadir, juga Syeh Siti Jênar.

Seh Benthong rumut tinari, sarta pangeran Palembang, Panembahan Madurane, aseba mring Giri Liman, angling Prabu Satmata, sukur pepeg anakingsun, sami limuta kaliman.
Syeh Bêntong ikut diminta hadir, juga Pangeran Palembang, Panêmbahan Madura juga, semua menghadap ke Giri Liman (Giri Gajah ~ Liman : Gajah. Keraton Sunan Giri), berkata Prabu Satmata (Sunan Giri), Syukurlah semua lengkap hadir, semua berkenan datang ke Giri Gajah.

Sadaya tunggala kapti, sampun wonten kang sulaya, arempega kang wiraos, sami ababar sosotya, sami miyak warana, sampun wongen masang semu, den anglela den tetela.
Aku harapkan semua bersatu pendapat, jangan sampai berdebat sendiri, satukan kehendak, saat mewedarkan mutiara ilmu, membuka rahasia, jangan terlalu banyak memakai bahasa kias, jabarkan saja apa adanya.

Jeng Suhunan Benang angling, ambabar kang pangawikan, tegese sariraningong, dat sipat apngaling Allah, nyata ing kalbu amba, Datollah kang amurbeku, mesesa ing dhewekira.
(Kang)jêng Suhunan Benang berkata, mulai mewedarkan kelebihannya, Sesungguhnya badanku ini, adalah Dzat Sifat Af’al Allah, sangat nyata didalam Kesadaran hamba, Dzatullah-lah yang menguasai, dan berwenang dalam badanku.

Jeng Suhunan adiluwih, ambabar kang pangawikan, tegese sariraningong, iya sadar jenengamba, iya jenging purab, iya Alah Sukma Subur, jeneng urip lawan jagad.
(Kang)jêng Adiluwih (Sunan Kalijaga) berkata, mulai mewedarkan kelebihannya, Kesadaran-lah yang patut menjadi namaku, patut menjadi nama Yang Maha Kuasa, yaitu Allah (Hyang) Suksma Yang Luhur, (patut menjadi) nama dari Sang Hidup dan nama seluruh semesta.

Jeng suhunan Giri-westhi, ambabar kang pangawikan, tegese sariraningong, imam urip lan nugraha, budi uriping Suksma, urip sara Allah iku, mangkana ing kawruhamba.
(Kang)jêng Suhunan Giri-wêsthi berkata, mulai mewedarkan kelebihannya, Sesungguhnya badanku ini, terdiri dari Iman (Keyakinan~maksudnya adalah jasad halus) Urip (Hidup~maksudnya adalah Roh) dan Nugraha (Anugerah~maksudnya adalah jasad kasar), Sang Hidup tak lain adalah Allah itu sendiri, begitulah pemahamanku.

Jeng Suhunan Kudus angling, ambabar kang pangawikan, Roh wajib ing imaningong, cahya mancur kadi surya, mijil sangking prabawa, amartani lapahipun, anguripi ing sajagad.
(Kang)jêng Suhunan Kudus berkata, mulai mewedarkan kelebihannya, Roh adalah pangkal keyakinanku, (Roh bagaikan) sebuah Cahaya yang memancar layaknya sinar surya, mengeluarkan perbawa yang luar biasa, menyelimuti jalannya semesta raya, menghidupi seluruh jagad.

Penembahan Madura ngling, ambabar kang pangawikan, aran kanugrahane, kundhi Allah ta punika, tegese kundhi ika, nabi Allah jatinipun, jinaten ing nama Allah.
Panêmbahan Madura berkata, mewedarkan kelebihannya, Yang dinamakan Anugerah Sejati, adalah Kundhi Allah, maksudnya Kundhi, tak lain adalah Nabi Allah, menyatu dalam kesejatian dalam nama Allah.

Pangeran Palembang angling, ambabar kang pangawikan, tegese sariraningong, tegese Allah punika, Allah ingkang amurba, angurip Mahaluhur, amisesa purba dhawak.
Pangeran Palembang berkata, mewedarkan kelebihannya, Sesungguhnya badanku ini, tak lain adalah Allah, Allah Yang Maha Berkuasa, Maha Hidup dan Maha Luhur, Berwenang menguasai semesta raya.

Prabu Satmata mangkya ngling, ambabar kang pangawikan, sami lan Allah purbane, kang ngawruhi iya Allah, kaping kalih nur badan, kaping tiga rasul iku, kaping pat Datollah ika.
Prabu Satmata (Sunan Giri) lantas berkata, mewedarkan kelebihannya, Tiada beda dengan Allah Kuasanya, yang mengetahui pertama tiada lain kecuali Allah, yang kedua Nur dan Badan fisik, yang ketiga Rasul, dan yang keempat Dzatullah.

Seh Siti Jenar mangkya ngling, ababar kang pangawikan, asembah ing Allah ingong, sujud rukuk padha Allah, sembah sinembah Allah, ingsun kang amurba iku, kang misesa ingsun uga.
Syeh Siti Jênar lantas berkata, mewedarkan kelebihannya, (Dalam) menyembah Allah, yang sujud maupun yang rukuk adalah Allah, yang menyembah maupun yang disembah adalah Allah, AKU-lah yang Berkuasa, Yang Berwenang tak lain juga AKU.

Wali sadaya mangkya ngling, Siti Jenar Kadariyah, katerasan iku linge, Siti Jenar sigra ngucap, adoha yen benera, ingkang perak iku embuh, iku Allah supayaa.
Maka berkatalah seluruh Wali, Syeh Siti Jênar berpaham Qadariyyah, semuanya adalah tunggal menurutnya, Siti Jênar menjawab, Dikatakan berpisah-pun tiada tepat, dikatakan dekat-pun juga tidak benar, itulah Allah.

Prabu Satmata mangkya ngling, iku jisin Siti Jenar, Seh Lemah Bang mangkya linge, raga jiwa den micara, padesane dentilar, Allah kang anglela iku, sakarsanipun wisesa.
Prabu Satmata (Sunan Giri) lantas berkata, Yang kamu tunjuk sebagai Allah itu jasad-mu, Syeh Lêmah Bang menjawab, tiada membicarakan Raga dan Jiwa (Badan halus), semua tempat Roh telah ditinggalkan, semua tak lain hanya Allah, sekehendak-Nya Berwenang.

Wali sadaya samya ngling, salah sira Siti Jenar, dene angaku badanne Allah badan Siti Jenar, tan langgeng aneng dunya, Siti Jenar iku luput, tembe mangke ngaku Suksma.
Maka seluruh Wali berkata, Dirimu salah wahai Siti Jênar, mengatakan badan fisikmu Allah, dan Allah berwujud dalam badan Siti Jênar, badan fisikmu tak kekal didunia ini, Siti Jênar jelas telah salah, dia telah mengaku (Hyang) Suksma (Tuhan).

Pan wonten lakone nguni, sami ambabar sosotya, sampun aling-aling kang wong, sami amiyak warana, aja na salah cipta, kene yen warahen dudu, anging panggah Siti Jenar.
Dan tersebutlah pada pertemuan selanjutnya, (konon katanya) semua mewedarkan mutiara ilmu, tiada memakai tirai rahasia lagi, semua membuka penutup ilmu, agar tiada salah dalam memahami, disini agar jelas mana yang pemahamannya sesat, akan tetapi pendapat Siti Jênar tetap tiada goyah.

Prabu Satmata mangkya ngling, Seh Lemah Bang kamanungsan, sanak pakenira kabeh, tan beda lan pakenira, nanging sampun anglela, manawi dudi klurung, akeh wong kang anggegampang.
Maka Prabu Satmata berkata, (Akan tetapi pendapat) Syeh Lêmah Bang terlalu berani, daripada seluruh saudara-saudara semuanya disini, padahal maksudnya tiadalah berbeda, tapi terlalu jelas apa yang diucapkannya, bisa membuat salah paham, sehingga membuat orang menjadi menggampangkan agama.

Kathah wong kang tanpa yekti, tanpa yun angguguruwa, akeh kang (ng)gegampang kang wong, dene warta atimbalan, sajatinipun wikan, dadi tan arsa (ng)guguru, awirang yen ta takona.
Akan banyak manusia yang malah bingung, jika tidak mendapatan pemahaman itu dari seorang guru, akan banyak manusia yang menggampangkan, merasa telah mendapatkan kabar rahasia, merasa telah mendapatkan hal yang sejati, tiada berkehendak untuk mencari guru lagi, seolah enggan lagi untuk bertanya (kepada seorang guru).

Seh Molana samya prapti, sakathahe Aji Cempa, pinereg ing masjid gedhe, mapan kantun wali sapta, samya (m)babar sosotya, tan prabeda kang rumuhun, Siti Jenar ingandikan.
Syeh Maulana (Maghribi)-pun hadir, seluruh orang besar keturunan dari Champa (juga datang), datang ke masjid agung, ditambah dengan tujuh wali lainnya, semua kembali mewedarkan mutiara ilmu, tiada beda dengan pertemuan yang terdahulu, Siti Jênar kembali diperingatkan.

Seh Molana mangkya angling, Siti Jenar nama tuwan, Siti Jenar mangkya turre, ingih Allah jenengamba, nora na Allah ika, anging siti Jenar iku, sirna Jenar Allah ana.
Syeh Maulana (Maghribi) lantas berkata, Benarkah nama tuan Siti Jênar? Siti Jênar lantas menjawab, Allah namaku, tiada lagi Allah lain, yang mewujud dalam Siti Jênar, sirna Siti Jênar hanya Allah yang nyata.

Molana Ngaribbi*) angling, kapkir dadi Siti Jenar, Aji Cempa angling alon, kapir dana Siti Jenar, Islamipun indalah, kapir danas wong puniku, punika kapir sampurna.
Maulana Maghribi berkata, Siti Jênar telah kafir, seluruh keturunan orang besar Champa berkata pelan, Siti Jênar telah kafir dalam pandangan manusia, tetapi entah didepan Allah, nyata telah kafir dalam pandangan manusia, dan orang seperti inilah patut disebut kafir.

Molana Mahribi angling, suhunan (n)daweg winejang, masjid dalem suwung kabeh, ana bekti ana ora, temah ngrusak agama, aggegampang temahipun, kang salah (n)daweg pinedhang.
Maulana Maghribi berkata, Wahai para Wali percuma kalian mengajar jika demikian, seluruh masjid kalian akan kosong, sedikit yang akan sembahyang disana, agama akan rusak, semua orang akan menggampangkan, sepatutnya yang salah harus dihukum dengan pedang.

Seh Siti Jenar mangkya ngling, (n)daweg sampun kalayatan, lawan swarga menga kabeh, Siti Jenar sinerampat, dening kaum sakawan, Seh Lemah Bang sampun khukhum**), pinedhang tatas kang jangga.
Syeh Siti Jênar lantas menjawab, Sudah menjadi niatan saya, pintu surga telah terbuka lebar, Siti Jênar lantas diikat, oleh empat orang santri, Syeh Siti Jênar telah diputuskan untuk mendapat hukuman, dengan cara dipotong kepalanya.

Titiga sabate sami, apan sedya pinejahan, samya prawira Khukhum**)e, titiga samya anedya, anebut Subkhanallah, wonten rare angon wedhus, sigra amiyarsa warta.
Tiga orang muridnya, berkehendak membela guru mereka, meminta dihukum dengan cara yang sama, ketiganya lantas, mengucapkan Subhanallah, tersebutlah ada seorang anak gembala (juga murid Siti Jênar), melihat kejadian itu.

Siti Jenar wani mati, kasusra angaku Allah, punang rare angon age, lumayu asumbar-sumbar, amareg mring ngayunan wonten Allah kari iku, katungkul ya angon menda.
Siti Jênar mendapat hukuman mati, karena berani mengaku Allah, anak gembala itu segera, berlari ke arah para Wali dengan sesumbar, mendekat tepat dihadapan, (Para Wali berkata) Masih ada Allah yang tertinggal, Allah yang menggembalakan kambing.

Prabu Satmata mangkya ngling, rare iku kudu pejah, khukhum**)ena aja suwe, sandhingena Siti Jenar, angling Ki Siti Jenar, sandhingena lawan ingsun, aywa adoh ingsun gawa.
Prabu Satmata lantas memerintahkan, Bunuh juga anak gembala itu, hukum-lah jangan lama-lama lagi, tempatkan disebelah Siti Jênar, menjawab Siti Jênar, Tempatkan disisiku, akan aku bawa serta dia.

Ponan rare angling aris, sampun (n)dika kalayatan, rare cilik sru tangise, age tumuta pralaya, wus menga lawang swarga, pinedhang janggane sampun, mesem rare angen menda.
Anak gembala berkata pelan, Jangan-lah tuan yang meninggal (cukup hamba saja), menangis sedihlah dia (melihat gurunya hendak dibunuh), (Siti Jênar berkata) Ikutlah mati bersamaku, sudah terbuka pintu surga, (maka semua yang hendak dihukum) lehernya telah dipedang, tersenyum anak gembala.

Jeng Suhunan Ratu Giri, nora kira Siti Jenar, maksih wutuh reragane, tigang dina gilang-gilang, tumulya uluk salam, kantuna andika ratu, Siti Jenar nulya ilang.
(Kang)jêng Suhunan Ratu Giri, tiada menyangka bahwasanya, jasad Siti Jênar masih utuh, selama tiga hari terlihat bercahaya, lantas terdengar ucapan salam, Selamat tinggal wahai paduka, (Jasad) Siti Jênar lantas hilang.

Tan kari sabatireki, sadaya wus samya ilang, miwah rare angon mangke, datan kantun melu ilang, sadaya sampun sirna, gawok sakeh kang andulu, dhumateng Seh Siti Jenar.
Begitu juga ketiga muridnya, semua jasadnya menghilang, tak ketinggalan jasad anak gembala, juga ikut musnah, semuanya sirna, keheranan semua yang melihat, kepada Syeh Siti Jênar (dan semua muridnya).

Tuturku kang wus kawijil, Seh Lemah Bang wus anyata, katon kandel kumandele, nanging pilih kang abisa, kadi Seh Siti Jenar, akeh mandheg aneng catur, pinentog mundur plarasan.
Semua kisah yang sudah aku ceritakan, menunjukkan bahwasanya Syeh Lêmah Bang, sangat yakin dan mantap, akan tetapi jarang bisa ditemui, orang seperti Syeh Siti Jênar, kebanyakan hanya terhenti dimulut, jika mendapat ancaman akan mundur ketakutan.

PENGERTIAN TASAWUF DAN MA'RIFAT

TASAWUF DAN MAKRIFAT 1. Pengertian "Ma'rifat" dalam bahasa berarti tahu atau kenal, ilmu atau pengetahuan, diambil dari bahasa Arab 'arafa. Dalam artian umum, ilmu atau pengetahuan yang diperoleh melalui akal. Dalam tasawuf, makrifat berarti mengetahui Allah SWT dari dekat, yaitu pengetahuan dengan hati sanubari. Dengan makrifat seorang sufi lewat hati sanubarinya, dapat melihat Tuhan Allah SWT. Para sufi mengatakan, "kalau mata yang terdapat dalam hati sanubari manusia terbuka, mata kepalanya akan tertutup dan ketika itu yang dilihatnya hanya Allah SWT. Makrifat itu merupakan cermin. Jika seorang sufi melihat ke cermin, maka yang akan dilihatnya hanya Allah SWT. Yang dilihat orang arif sewaktu tidur maupun bangun hanya Allah SWT". Pengetahuan dalam bentuk makrifat merupakan pengetahuan yang langsung ada pada Allah SWT, yang dianugerahkan-Nya kepada mereka yang diberi kemampuan menerimanya. Makrifat merupakan cahaya yang memancar ke dalam hati, menguasai daya yang ada dalam diri manusia dengan sinarnya yang menyilaukan. Menurut para Sufi seperti yang dikemukakan oleh seoran sufi, Abu Bakar Al Kalabazi, bahwa Allah SWT lah yang membuat manusia mengenal diri-Nya. (Ensiklopedi Islam 3, 1994 :130). 2. Hubungan Tasawuf dengan Ma'rifat Makrifat kadang-kadang dipandang sebagai makam dan terkadang dipandang sebagai haal. Antara makrifat dan mahabbah ada kesamaan dan ada perbedaan. Persamaannya keduanya menggambarkan keadaan dekatnya seorang sufi dengan Tuhan. Perbedaannya mahabbah menggambarkan hubungan dalam bentuk cinta, sedangkan makrifat menggambarkan hubungan dalam bentuk pengetahuan dengan hati sanubari. Sabda Rasulullah SAW, Artinya : Siapa yang mengenal dirinya, sesungguhnya dia dapat mengenal Tuhannya. Zunnun Al-Mishry berkata, Artinya : Aku kenal Tuhanku dengan Tuhanku juga, kalau tidak dengan Tuhanku aku tidak mengenal Tuhanku. (Al Qusyairi : 315). Menurut Zunnun tokoh utama dan pencetus paham makrifat berpendapat, bahwa pengetahuan tentang Tuhan Allah itu terbagi tiga, yaitu pengetahuan orang awam, pengetahuan ulama dan pengetahuan orang arif. Pengetahuan orang awam tentang Allah pada dasarnya adalah pengetahuan yang diterima dari ajaran agama tanpa memerlukan pembuktian melalui logika. Pengetahuan tentang Tuhan diperoleh dengan perantaraan ucapan dua kalimat syahadat. Pengetahuan ulama mementingkan dalil dan logika. Baik pengetahuan orang awam maupun pengetahuan ulama tentang Allah disebut sebagai ilmu, bukan makrifat. Pengetahuan dalam bentuk makrifat menurut Zunnun, adalah pengetahuan tentang Allah di kalangan kaum sufi yang dapat melihat Allah dengan hati sanubarinya. Makrifat ini adalah anugerah Allah kepada kaum sufi yang telah dengan ikhlas beribadat dan sungguh-sungguh mencintai dan mengenal Allah. Dengan keikhlasan ibadat itulah, maka Allah menyingkapkan tabir (kasysyaf) dari pandangan sufi untuk dapat menerima cahaya yang dipancarkan oleh Allah SWT. Dalam keadaan demikian, sufi dapat melihat keindahan Allah yang abadi dan mengetahui keesaan-Nya. Dalam tasawuf terdapat komunikasi dua arah. Di satu pihak sufi berusaha keras mendekatkan diri dari bawah, sedangkan di lain pihak Allah dari atas menurunkan rahmat-Nya. Ketika berlangsung komunikasi dua arah dalam bentuk makrifat, pengaruh akal dan penglihatan mata hilang, karena yang disaksikan seorang sufi hanyalah yang hakiki yaitu Allah melalui hati sanubari. Al Qusyayri mengatakan ada tiga alat dalam tubuh manusia yang digunakan sufi untuk berhubungan dengan Allah SWT. a. Qalbu (Qalb, the heart) untuk mengetahui sifat Tuhan. b. Roh (Ruh, the spirit) untuk mencintai Tuhan. c. Sir (Sirr, hati sanubari, inmost ground of the soul) untuk melihat Tuhan. Dari ketiga alat tersebut, Sir merupakan alat yang peka dan lebih halus dari roh apalagi kalbu. Sir merupakan alat yang digunakan oleh sufi untuk memperoleh makrifat. Oleh sebab sir bertempat pada roh dan roh bertempat pada kalbu, maka sir timbul serta dapat menerima makrifat dari Allah SWT, di kala roh dan kalbu telah suci dan kosong dari segala sesuatu yang dapat mengganggunya. Tibalah saatnya bagi sufi ketika itu menangkap cahaya Tuhan yang diturunkannya. Kalbu tak ubahnya sebagai kaca, jika senantiasa bersih akan mempunyai daya tangkap sir yang benar, untuk memperoleh cahaya cemerlang yang dipancarkan Allah SWT. Apabila cahaya cemerlang itu diperoleh, di kala itulah sufi bertemu dengan zat maha tinggi. Pertemuan dengan Allah, itulah puncak kebahagiaan. Walaupun makrifat dapat menyingkapkan rahasia-rahasia Allah kepada seorang sufi, namun makrifat yang penuh tidak mungkin dapat dicapai oleh manusia, lantaran keterbatasan manusia itu sendiri, disamping kemutlakan Allah SWT. Al Junaid mengatakan dalam hal ini, "Cangkir teh tak akan bisa menampung semua air yang ada di laut". Pernyataan ini menunjukkan bahwa meskipun seorang sufi berusaha secara kontinyu untuk memeproleh makrifat, tidak mungkin ia memperolehnya dalam arti yang penuh dan sempurna, sehingga semua rahasia hakikat ketuhanan dapat diketahuinya. Setelah makrifat itu dicapai, tujuan dan pengaruhnya dapat diterapkan dalam kehidupan. Zunnun mengatakan bahwa makrifat mempunyai jangkauan atau tujuan moral yakni nilai kemanusiaan seoptimalnya yang harus berhiaskan akhlak Allah SWT( ). Pergaulan orang arif bila telah sampai ke tingkat ini bagaikan pergaulan dengan Allah SWT. Siti Aisyah waktu ditanya tentang akhlak Rasulullah menjawab bahwa akhlak Rasulullah adalah Al Qur'an. Menurut Zunnun ada tiga tanda orang arif : a. Cahaya makrifatnya tidak memadamkan cahaya kerendahan hatinya. b. Tidak mengakui secara batiniah, ilmu yang bertentangan dengan hukum lahiriah (hukum syari'at) c. Nikmat Allah SWT yang banyak itu tidak menggiringnya untuk melanggar larangan Allah SWT. Tanda-tanda tersebut pada hakikatnya mengacu kepada profil seorang sufi yang memiliki akhlak tinggi yaitu akhlak ilahiyah. Paham makrifat yang dikemukakan Zunnun itu diterima oleh Al Ghazali, sehingga mendapat pengakuan di kalangan Ahlus Sunnah wal Jama'ah, karena Al Ghazali adalah salah seorang figur yang sangat berpengaruh di kalangan mereka. Al Ghazali-lah yang membuat tasawuf menurut pola pikir tersebut menjadi halal dan dapat diterima oleh kaum syariat. Al Ghazali mengatakan, "Makrifat adalah mengetahui rahasia-rahasia Allah SWT dan mengetahui peraturan-peraturan-Nya tentang segala yang ada". Al Ghazali mengatakan, "Alat seorang sufi mendapatkan makrifat adalah kalbu, bukan panca indera atau akal. Pengetahuan yang diperoleh kalbu lebih benar daripada pengetahuan yang diperoleh melalui akal. Jalan untuk memperoleh kebenaran adalah tasawuf (makrifat dan bukan falsafah). Al Ghazali mengatakan makrifat juga berarti memandang kepada wajah Allah SWT ( ). Selanjut-nya dia mengemukakan bahwa makrifat mengandung tujuan moral, kebahagiaan, cinta kepada Allah SWT dan fana di dalamnya. Jalan yang ditempuh kaum sufi mengandung tujuan meningkatkan akhlak terpuji melalui latihan jiwa, dan juga bertujuan mengganti akhlak tercela menjadi akhlak yang terpuji. Dengan kata lain, tujuan makrifat menurut Al Ghazali sejalan dengan tujuan makrifat menurut Zunnun, yakni mengacu pada moral ilahiyah. Untuk dapat ma'rifat kepada Allah, haruslah melalui mujahadah, perjuangan yang sungguh-sungguh dan terus menerus melaksanakan jalan menuju Allah itu. Firman Allah SWT : Artinya : Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridlaan) Kami sungguh akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami (Q.S. Al Ankabut 29 : 69). Orang-orang yang berjalan menuju Allah, ibarat jarum-jarum menuju gumpalan besi berani. Getaran magnit besi berani itulah yang lebih berperan sesungguhnya untuk mendekat, dibandingkan usaha jarum itu sendiri. Sabda Rasulullah SAW (Hadis Qudsi), Artinya : Aku sesuai dengan dugaan hamba-Ku kepada-Ku dan Aku bersama dengannya. Ketika dia ingat kepada-Ku di dalam hatinya, Aku pun ingat pula kepadanya di dalam hati-Ku, dan jika dia ingat kepada-Ku dalam lingkungan khalayak ramai, Aku pun ingat kepadanya pada khalayak yang lebih baik. Dan jika dia mendekat kepada-Ku sejengkal, maka aku pun mendekat pula kepadanya sehasta, dan jika dia mendekat kepada-Ku sehasta niscaya Aku mendekat kepadanya sedepa, dan jika dia datang kepada-Ku berjalan maka Aku mendatanginya sambil berlari. (H.R. Bukhari Muslim). Setelah dekat bahkan lengket dengan besi berani, si jarum tidak sadarkan diri dan tidak berfungsi sama sekali. Dalam keadaan demikian si jarum tidak menjadi besi berani, begitu pula sebaliknya. Begitulah orang yang 'arif billah menggambarkan keadaan orang yang fana' fillah. Prof. Dr. H. Kadirun Yahya mengatakan, perumpamaan orang arif yang sedang fana' fillah, ibarat besi panas. Besi luluh dan lebur bersama api. Tidak dapat dibedakan mana yang besi mana yang api. Besi tidak panas, karenanya tidak membakar. Yang panas tetap api dan apilah yang membakar. Tapi karena begitu berhampirannya besi dengan api, sehingga tidak dapat dibedakan mana yang besi dan mana pula yang api. Walaupun demikian besi tidak akan jadi api dan sebaliknya. Begitu pulalah halnya orang 'arif atau mursyid tidak akan jadi Allah dan sebaliknya. Yang memberi bekas - keramat misalnya - tetap Allah. Orang 'arif atau mursyid menyalurkan wasilah, getaran, power tak terhingga ( ) yang langsung dari Allah SWT, melalui kekasih-Nya, wali-wali Allah, orang 'arif, atau mursyid. Prof. Dr. H. Saidi Syekh Kadirun Yahya menggambarkan hal yang sama, seperti strum listrik dengan kabel. Strum listrik bukan kabel dan sebaliknya. Strum tidak akan jadi kabel dan sebaliknya. Yang memberi bekas adalah tetap strum yang datang dan bersumber dari dinamo sentral listrik. Rumusan beliau ini berdasarkan firman afaki yang dikelola berdasarkan iptek dikonfirmasikan dengan firman kitabi, kemudian diaktualisasikan sehingga menjadi kenyataan melalui uji coba berpuluh-puluh tahun. As Syekh Al Qusyayri memulai untuk menjelaskan tentang ma'rifah ini dengan mengemukakan Q.S. Al An'am 6 : 91. Firman Allah SWT, Artinya : Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya (Q.S. Al An'am 6 : 91). Dalam kitab-kitab tafsir tertulis ayat ini berarti, Artinya : Mereka tidak mengenal Allah sebagaimana seharusnya Dia dikenal. Sabda Rasulullah SAW, Artinya : Diriwayatkan oleh Aisyah r.a. bahwa Nabi bersabda "Landasan sebuah rumah adalah pondasinya. Landasan agama adalah pengenalan langsung terhadap Allah, keyakinan dan akal yang menjaga dari kekeliruan". Aisyah bertanya semoga ayah dan ibuku menjadi tebusanmu, apakah akal yang menjaga dari kekeliruan itu ? Rasulullah menjawab : "Menahan diri dari ketidakpatuhan terhadap Allah dan bersemangat dalam mentaati-Nya". (H.R. Ad Dailani) Di kalangan sufi, ma'rifat adalah sifat dari orang yang mengenal Allah SWT dengan nama-nama serta sifat-sifat-Nya, dan berlaku tulus kepada Allah SWT dengan perbuatan-perbuatan-Nya, yang lalu mensucikan dirinya dari sifat-sifat yang rendah dengan segala cacatnya. Kemudian dia berdiri lama di depan pintu, kemudian dia senantiasa mengundurkan hatinya dari hal-hal duniawiyah yang rendah. Setelah itu dia menikmati kedekatan dengan Allah dengan segala keindahannya dan mengukuhkan ketulusannya dalam semua keadaan terhadap Allah. (Al Qusyayri : 311-312). Dalam buku-buku tasawuf kita jumpai kalimat-kalimat yang terjalin menegaskan keeratan hubungan antara syariat, tarikat, hakikat dan makrifat itu. Sabda Rasulullah SAW yang maksudnya, "Syariat itu perkataanku, tarikat itu perbuatanku, dan hakikat itu ialah kelakuanku". http//naqsyabandi.org/sekilas tasauf

Inti dari (makna )Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu

Mempelajari “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” berarti harus pula mengenal asal usul manusia dan dunia seisinya, dan haruslah dapat menguraikan tentang sejatining urip (hidup), sejatining Panembah (pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa),sampurnaning pati (kesempurnaan dalam kematian), dalam terminologi Islam disebut jugainnalillahi wainna illaihi rojiuun, untuk menggapai alam kesucian (Budha: nirvana) kembali ke “hadapan” Tuhan YME dengan tata cara hidup layak untuk mencapai budi suci dan menguasai panca indera serta hawa nafsu untuk mendapatkan tuntunanSang Guru Sejati.

Uraian tersebut dapat menjelaskan bahwa sasaran utama mengetahui “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” adalah untuk mencapai Kasampurnaning Pati, dalam istilah RNg Ronggowarsito disebutKasidaning Parasadya atau pati prasida, bukan sekedar pati patitis ataupati pitaka.

“Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” seolah menjadi jalan tol menuju pati prasida.

Bagi sseorang yang mengimplementasikan perbuatan dalam koridor “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” dapat memetik manfaatnya berupa Pralampita atau ilham atau wangsit (wahyu) atau berupa “senjata” biasanya berupa rapal. Dengan rapal atau mantra orang akan memahami isi Endra Loka, yakni pintu gerbang rasa sejati, merasakan sejatinya wahana Tuhan YME. Manusia mempunyai tugas berat dalam mencari Tuhannya kemudian menyatukan diri ke dalam gelombang Hyang Mahawisesa, Yang Maha Kuasa. Konsep ini dikenal sebagai wujudjumbuhing/manunggaling kawula lan Gusti, atau warangka manjing curiga. Tampak dalam kisah Dewa Ruci, pada saat bertemunya Bima dengan Dewa Ruci sebagai lambang Tuhan YME. Saat itu pula Bima menemukan segala sesuatu di dalam dirinya sendiri.

Itulah inti sari dari “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu”sebagai Pungkas-pungkasaning Kawruh. Artinya, ujung dari segala ilmu pengetahuan atau tingkat setinggi-tingginya ilmu yang dapat dicapai oleh manusia atau seorang sufi. Karena ilmu yang diperoleh dari makrifat ini lebih tinggi mutunya dari pada ilmu pengetahuan yang dapat dicapai dengan akal.

Dalam dunia pewayangan lakon “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” dimaksudkan untuk lambang membabarkan wejangan sedulur papat lima pancer. Yang menjadi tokoh atau pelaku utama dalam lakon ini adalah sbb;

Begawan Wisrawa
Menjadi lambang guru yang memberi wejangan ngelmu Sastrajendra kepada Dewi Sukesi.

Ramawijaya
Sebagai penjelmaan Wisnu (Kayun; Yang Hidup), yang memberi pengaruh kebaikan terhadap Gunawan Wibisono (nafsul mutmainah),

Keduanya sebagai lambang dari wujud jiwa dan sukma yang disebut Pancer. Karena wejangan yang diberikan oleh Begawan Wisrawa kepada Dewi Sukesi ini bersifat sakral yang tidak semua orang boleh menerima, maka akhirnya mendapat kutukan Dewa kepada anak-anaknya....

1. Dasamuka (raksasa) yang mempunyai perangai jahat, bengis, angkara murka, sebagai simbol dari nafsu amarah.

2. Kumbakarna (raksasa)
Mempunyai karakter raksasa yakni bodoh, tetapi setia, namun memiliki sifat pemarah. Karakter kesetiannya membawanya pada watak kesatria yang tidak setuju dengan sifat kakaknya Dasamuka. Kumbakarno menjadi lambang dari nafsu lauwamah.

3. Sarpokenoko (raksasa setengah manusia)
Memiliki karakter suka pada segala sesuatu yang enak-enak, rasa benar yang sangat besar, tetapi ia sakti dan suka bertapa. Ia menjadi simbol nafsu supiyah.

4. Gunawan Wibisono (manusia seutuhnya);
Sebagai anak bungsu yang mempunyai sifat yang sangat berbeda dengan semua kakaknya. Dia meninggalkan saudara-saudaranya yang dia anggap salah dan mengabdi kepada Romo untuk membela kebenaran. Ia menjadi perlambang dari nafsul mutmainah.

Gambaran ilmu ini adalah mampu merubah raksasa menjadi manusia. Dalam pewayangan, raksasa digambarkan sebagai mahluk yang tidak sesempurna manusia.

Misal kisah prabu Salya yang malu karena memiliki ayah mertua seorang raksasa. Raden Sumantri atau dikenal dengan nama Patih Suwanda memiliki adik raksasa bajang bernama Sukrasana. Dewi Arimbi, istri Werkudara harus dirias sedemikian rupa oleh Dewi Kunti agar Werkudara mau menerima menjadi isterinya. Betari Uma disumpah menjadi raksesi oleh Betara Guru saat menolak melakukan perbuatan kurang sopan dengan Dewi Uma pada waktu yang tidak tepat. Anak hasil hubungan Betari Uma dengan Betara Guru lahir sebagai raksasa sakti mandra guna dengan nama “ Betara Kala “ (kala berarti keburukan atau kejahatan).

Sedangkan Betari Uma kemudian bergelar Betari Durga menjadi pengayom kejahatan dan kenistaan di muka bumi memiliki tempat tersendiri yang disebut “ Kayangan Setragandamayit “. Wujud Betari Durga adalah raseksi yang memiliki taring dan gemar membantu terwujudnya kejahatan.

Melalui ilmu Sastrajendra maka simbol sifat sifat keburukan raksasa yang masih dimiliki manusia akan menjadi dirubah menjadi sifat sifat manusia yang berbudi luhur. Karena melalui sifat manusia ini kesempurnaan akal budi dan daya keruhanian mahluk ciptaan Tuhan diwujudkan. Dalam kitab suci disebutkan bahwa manusia adalah ciptaan paling sempurna. Bahkan ada disebutkan, Tuhan menciptakan manusia berdasar gambaran dzat-Nya. Filosof Timur Tengah Al Ghazali menyebutkan bahwa manusia seperti Tuhan kecil sehingga Tuhan sendiri memerintahkan para malaikat untuk bersujud.

Sekalipun manusia terbuat dari dzat hara berbeda dengan jin atau malaikat yang diciptakan dari unsur api dan cahaya. Namun manusia memiliki sifat sifat yang mampu menjadi “ khalifah “ (wakil Tuhan di dunia).

Namun ilmu ini oleh para dewata hanya dipercayakan kepada Wisrawa seorang satria berwatak wiku yang tergolong kaum cerdik pandai dan sakti mandraguna untuk mendapat anugerah rahasia Serat Sastrajendrahayuningrat Diyu.

Ketekunan, ketulusan dan kesabaran Begawan Wisrawa menarik perhatian dewata sehingga memberikan amanah untuk menyebarkan manfaat ajaran tersebut. Sifat ketekunan Wisrawa, keihlasan, kemampuan membaca makna di balik sesuatu yang lahir dan kegemaran berbagi ilmu.

Sebelum “ madeg pandita “ ( menjadi wiku ) Wisrawa telah lengser keprabon menyerahkan tahta kerajaaan kepada sang putra Prabu Danaraja. Sejak itu sang wiku gemar bertapa mengurai kebijaksanaan dan memperbanyak ibadah menahan nafsu duniawi untuk memperoleh kelezatan ukhrawi nantinya. Kebiasaan ini membuat sang wiku tidak saja dicintai sesama namun juga para dewata.

Sifat Manusia Terpilih
Sebelum memutuskan siapa manusia yang berhak menerima anugerah Sastra Jendra, para dewata bertanya pada sang Betara Guru. “ Duh, sang Betara agung, siapa yang akan menerima Sastra Jendra, kalau boleh kami mengetahuinya. “Bethara guru menjawab “ Pilihanku adalah anak kita Wisrawa “. Serentak para dewata bertanya “ Apakah paduka tidak mengetahui akan terjadi bencana bila diserahkan pada manusia yang tidak mampu mengendalikannya. Bukankah sudah banyak kejadian yang bisa menjadi pelajaran bagi kita semua”. Kemudian sebagian dewata berkata “ Kenapa tidak diturunkan kepada kita saja yang lebih mulia dibanding manusia “.

Seolah menegur para dewata sang Betara Guru menjawab “Hee para dewata, akupun mengetahui hal itu, namun sudah menjadi takdir Tuhan Yang Maha Kuasa bahwa ilmu rahasia hidup justru diserahkan pada manusia. Bukankah tertulis dalam kitab suci, bahwa malaikat mempertanyakan pada Tuhan mengapa manusia yang dijadikan khalifah padahal mereka ini suka menumpahkan darah“. Serentak para dewata menunduk malu “ Paduka lebih mengetahui apa yang tidak kami ketahui”. Kemudian, Betara Guru turun ke mayapada didampingi Betara Narada memberikan Serat Sastra Jendra kepada Begawan Wisrawa.

“Duh anak Begawan Wisrawa, ketahuilah bahwa para dewata memutuskan memberi amanah Serat Sastra Jendra kepadamu untuk diajarkan kepada umat manusia”. Mendengar hal itu, menangislah Sang Begawan “Ampun, sang Betara agung, bagaimana mungkin saya yang hina dan lemah ini mampu menerima anugerah ini “.

Betara Narada mengatakan “Anak Begawan Wisrawa, sifat ilmu ada 2 (dua). Pertama, harus diamalkan dengan niat tulus. Kedua, ilmu memiliki sifat menjaga dan menjunjung martabat manusia. Ketiga, jangan melihat baik buruk penampilan semata karena terkadang yang baik nampak buruk dan yang buruk kelihatan sebagai sesuatu yang baik. “ Selesai menurunkan ilmu tersebut, kedua dewata kembali ke kayangan.

Setelah menerima anugerah Sastrajendra maka sejak saat itu berbondong bondong seluruh satria, pendeta, cerdik pandai mendatangi beliau untuk minta diberi wejangan ajaran tersebut. Mereka berebut mendatangi pertapaan Begawan Wisrawa melamar menjadi cantrik untuk mendapat sedikit ilmu Sastra Jendra. Tidak sedikit yang pulang dengan kecewa karena tidak mampu memperoleh ajaran yang tidak sembarang orang mampu menerimanya. Para wiku, sarjana, satria harus menerima kenyataan bahwa hanya orang-orang yang siap dan terpilih mampu menerima ajarannya.

Demikian lah pemaparan tentang puncak ilmu kejawen yang adiluhung, tidak bersifat primordial, tetapi bersifat universal, berlaku bagi seluruh umat manusia di muka bumi, manusia sebagai mahluk ciptaan Gusti Kang Maha Wisesa, Tuhan Yang Maha Kuasa. Yang Maha Tunggal. Janganlah terjebak pada simbol-simbol atau istilah yang digunakan dalam tulisan ini. Namun ambilah hikmah, hakikat, nilai yang bersifat metafisis dan univers.

http//z-leppelin.blogspot.com