" BABENA AZZAM - ALAM UNIK - ASTOBLOG.BLOGSPOT.COM " Alam Unik: 2011-08-14
http://blokosutoo-alamunik.blogspot.com/

Agustus 16, 2011

SHOLAT SEBAGAI MI'RAJNYA ORANG BERIMAN

Ketika engkau bersembahyang ......

Oleh takbirmu pintu langit terkuakkan ..

Partikel udara dan ruang hampa bergetar ...

Bersama-sama mengucapkan Allahu Akbar ...

Bacaan Al-Fatihah dan surah ...

Membuat kegelapan terbuka matanya ...

Setiap doa dan pernyataan pasrah ...

Membentangkan jembatan cahaya ...

Tegak tubuh alifmu mengakar ke pusat bumi ...

Ruku' lam badanmu memandangi asal-usul diri ...

Kemudian mim sujudmu menangis..

Di dalam cinta Allah hati gerimis ...

Sujud adalah satu-satunya hakekat hidup ....

Karena perjalanan hanya untuk tua dan redup ....

Ilmu dan peradaban takkan sampai ....

Kepada asal mula setiap jiwa kembali ...

Maka sembahyang adalah kehidupan ini sendiri ....

Pergi sejauh-jauhnya agar sampai kembali ....

Badan di peras jiwa dipompa tak terkira-kira ....

Kalau diri pecah terbelah, sujud mengutuhkannya ....

Sembahyang di atas sajadah cahaya ...

Melangkah perlahan-lahan ke rumah rahasia ....

Rumah yang tak ada ruang tak ada waktunya ....

Yang tak bisa dikisahkan kepada siapapun ....

Oleh-olehmu dari sembahyang adalah sinar wajah ....

Pancaran yang tak terumuskan oleh ilmu fisika ...

Hatimu sabar mulia, kaki seteguh batu karang ....

Dadamu mencakrawala... ,

seluas 'arasy sembilan puluh sembilan ......

Oleh :Emha Ainun Najib

TUHAN TITIK

TUHAN...ENGKAU IBARAT TERANG,

WARNAMU…BEDA SESUAI WARNA KACAMATA YANG MEMANDANGMU

TUHAN…ENGKAU LAKSANA CERMIN,

GAMBARMU… BEDA SESUAI GAMBARAN YANG MELIHATMU

TUHAN…ENGKAU TAK BEDANYA MATAHARI

NAMAMU…BERBEDA DISETIAP TEMPAT DAN WAKTU

TUHAN…ENGKAU TAK UBAHNYA MUKA AIR

WAJAHMU…UBAH SESUAI YANG MELIHATMU

TUHAN…ENGKAU ALA SIMBOL SIMBOL

PERSEPSIMU…TERKOTAK SIMBOL SIMBOL

TUHAN…ENGKAU BAGAIKAN ANGIN,

MENCARIMU… BAGAIKAN MENJARING ANGIN

TUHAN…ENGKAU BENING SEPERTI UDARA

MELIHATMU… BENING, TIDAK MENEMUKAN APA APA

TUHAN,…..ENGKAU MEMPUNYAI BANYAK NAMA

NAMUN ENGKAU DIBEDAKAN OLEH SETIAP NAMA

TUHAN....ENGKAU BAGAIKAN TITIK

YANG MEMBUATKU BERHENTI.

TITIK.



Kuswanto Abu Irsyad

Joke Ala Sufi


Alkisah di salah satu sudut neraka, ada dialog sesama penghuni neraka.


A : Kenapa anda masuk neraka? pasti anda seorang pembunuh.

B : oooh bukan, saya tidak pernah membunuh.

A : oo saya tau pasti anda seorang pemerkosa atau sering berbuat kejahatan.

B : Tidak juga, waktu di dunia hidup saya cool2 aja.

A : Lalu apa pekerjaan anda, sehingga dimasukin ke neraka?

B : Berdagang.

A: Berdagang apa hingga anda diceburin ke neraka? pasti anda berjualan narkoba.

B : oo tidak, saya tidak berjualan obat-obatan terlarang, kan hukumnya haram, maka dari itu saya berjualan syurga dan ayat-ayat saja.

A : ?????????? mlongo tidak tau.

Makna HA NA CA RA KA ( aksara Jawa )


1. Ha
: Hananira sejatine wahananing Hyang.

Adanya pada hakekatnya adalah pendukung Hyang …. wujud atau kebenaran.


2. Na
: Nadyan ora kasad mata pasti ana.

Meskipun tidak nampak oleh mata, tetapi ia pasti ada.


3. Ca : Careming Hyang yekti tan ceta wineca.

Nikmatnya Hyang yang sesungguhnya tak (dapat) diuraikan dengan jelas(mempergunakan kata-kata). Karena tak ada sesuatu yang menyerupai Hyang.


4. Ra : Rasakena rakete lan angganira.

Rasakanlah eratnya dengan badanmu.


5. Ka
: Kawruhanan jiwa kongsi kurang weweka.

Ketahuan dari jiwa jika kurang diusahakan.


6. Da
: Dadi sasar yen sira nora waspada.

Jika tidak waspada (kau) akan menjadi sesat.


7. Ta
: Tamatna prabaning Hyang Sing Sasmita.

Perhatikanlah cahaya Hyang yang memberikan isyarat.


8. Sa
: Sasmitane kang kongsi bisa karasa.

Isyarat yang sampai dapat dirasakan.


9. Wa
: Waspadalah wewadi kang sira gawa.

Lihatlah dengan seksama (sifat) batin sesungguhnya yang anda bawa.


10. La
: Lalekna yen sira tumekeng lalis.

Lupakanlah pada waktu anda sampai pada kematian.


11. Pa
: Patisasar tan wus manggyapapa.

Kematian sesat yang tak sampai pada tujuan akan menjumpai kesengsaraan.


12. Dha
: Dhasar beda lan kang wus kalis ing godha.

Pada dasarnya berbeda dengan (orang) yang telah tak terpengaruh oleh godaan.


13. Ja
: Jangkane mung jenak jemjeming jiwaraga.

Rencana tindakannya, hanya tahan tenteram didalam kebesaran jiwa.


14. Ya
: Yatnanana liyep luyuting pralaya.

Lihatlah dalam keadaan lupa-lupa ingat mengaburnya pralaya/kematian.


15. Nya
: Nyata sonya nyenyet lebeting kadonyan.

Nyata (bahwa) sunyi senyap (segala) jejak keduniawian.


16. Ma
: Madyen ngalam perantunan aja samara.

Ditengah “ngalam perantunan” janganlah ragu-ragu.


17. Ga
: Gayuhaning tanaliyan jung sarwa arga.

Tak ada lain yang hendak dicapai kecuali segala “gunung” atau “jamuan”.


18. Ba
: Bali murba wisesa ing njero njaba.

Kembali mengatur menguasai (segi) luar dan dalam.


19. Tha
: Thukulane widadarja tebah nistha.

Tumbuhnya kekuatan hukum menembus kerendahan/kehinaan.


20. Nga
: Ngarah-arah ing reh mardi-mardiningrat.

Berhati-hati dalam merencanakan pengaturan-mengatur dunia.Uraian mengenai 20 petunjuk “aksara” – dari serat sastra gending; Karya Sultan Agung Prabu Anyakrakusuma.

TURUNNYA ADAM

AGUSTUS 09, 2011

Kemudian Dia merangkai kisah adam

turun kedunia :

Allah SWT mengumpulkan segenggam tanah dari

bumi; di dalamnya terdapat yang berwarna putih,

hitam, kuning, coklat dan merah. Allah SWT

mencampur tanah dengan air sehingga menjadi

tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam

yang diberi bentuk. Dari tanah inilah Allah

menciptakan Adam. Allah SWT menyempurnakan

nya dengan kekuasaan-Nya lalu meniupkan roh-

Nya di dalamnya, kemudian bergeraklah tubuh

Adam dan tanda kehidupan mulai ada di dalamnya.


Kemudian Adam membuka kedua matanya dan
ia melihat para malaikat semuanya bersujud
kepadanya, kecuali satu makhluk yang berdiri
di sana.

Allah SWT menceritakan kisah penolakan Iblis untuk sujud kepada Nabi Adam
Allah berfirman: 'Hai Iblis, apa yang menghalangi kamu sujud kepada yang
telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan
diri ataukah kamu merasa termasuk orang-orang yang lebih tinggi?
'Iblis berkata: 'Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku
dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.' Allah berfirman:
'Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang
yang terkutuk. Sesungguhnya kutukan-Kutetap atasmu sampai hari
pembalasan.' Iblis berkata: 'Ya Tuhanku, beri
tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan.' Allah berfirman: '
Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh,
sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari kiamat).
' Iblis menjawab: Demi kekuasaan-Mu, aku akan menyesatkan
mereka semua, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara
mereka.'" (QS. Shad: 75-83)

Kemudian Allah memberikan sebagian Ilmu-Nya kepada Adam

"Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya,
kemudian mengemukakannya kepada para malaikat itu lalu berfirman:
'Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang
yang benar.' Mereka menjawab: 'Maha Suci Engkau. Tidak ada yang kami
ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada Kami. Sesungguhnya
Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Allah berfirman:
'Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.
' Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama benda-
benda itu, Allah berfirman: 'Bukankah sudah Kukatakan kepadamu,
bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan
mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu
sembunyikan?'"(QS. al-Baqarah: 31-33)

Dan Allah menempatkan adam disurga:

"Dan Kami berfirman: 'Hai Adam, tinggallah kamu dan istrimu di surga ini,
dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja
yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan
kamu termasuk orang-orang yang lalim.'" (QS. al-Baqarah: 35)


"Dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu
termasuk orang-orang yang lalim.'" (QS. al-Baqarah: 35)

Adam dan Hawa mengerti bahwa mereka dilarang untuk memakan sesuatu
dari pohon disurga itu, Kemudian Iblis menceritakan kepada Adam,"aku
akan menunjukkan kepadamu pohon keabadian dan kekuasaan yang tidak
akan sirna?" Adam yang menginginkan kekekalan bersama Tuhannya
terkecoh oleh rayuan Iblis dan menukarkan kenikmatan surga dengan
kekekalan bersama Tuhannya. Kemudian terdengarlah teriakan,"Dan
durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia."
(QS. Thaha: 121)

Adam dan Hawa turun ke bumi. Mereka keluar dari surga. Karena ketulusan
taubat mereka, akhirnya Allah SWT menerima taubat mereka dan Allah SWT
memberitahukan kepada mereka bahwa bumi adalah tempat mereka yang asli,
di mana mereka akan hidup di dalamnya, mati di atasnya, dan akan
dibangkitkan darinya pada hari kebangkitan. Allah SWT berfirman,
"Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari
bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan. " (QS. al-A'raf: 25)

Lalu sebagaian umat dibumi menyalahkan adam, karena kecintaannya kepada
Yang Maha Kekal, yang memaksanya memilih kekekalan dengan Tuhannya,
dan karena itu pulalah yang merupakan kehendak dari Tuhannya. Cinta yang
memaksa menukar kenikmatan surga dengan sebiji buah kekekalan.

Percy Jackson

Suluk Linglung Sunan Kali Jaga

Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari pengalaman hidup, baik itu pengalaman hidup pribadi maupun orang lain. Orang Jawa menyebut belajar pada pengalaman orang lain itu sebagai “kaca benggala”. Nah, kini kita belajar pada pengalaman dari Kanjeng Sunan Kalijaga. Ketika itu, Kanjeng Sunan Kalijaga yang juga dijuluki Syech Malaka berniat hendak pergi ke Mekkah. Tetapi, niatnya itu akhirnya dihadang Nabi Khidir. Nabi Khidir berpesan hendaknya Kanjeng Sunan Kalijaga mengurungkan niatnya untuk pergi ke Mekkah, sebab ada hal yang lebih penting untuk dilakukan yakni kembali ke pulau Jawa. Kalau tidak, maka penduduk pulau Jawa akan kembali kafir. Bagaimana wejangan dari Nabi Khidir pada Kanjeng Sunan Kalijaga? Hal itu tercetus lewat Suluk Linglung Sunan Kalijaga. Inilah kutipan wejangannya:


Birahi ananireku,

aranira Allah jati.

Tanana kalih tetiga,

sapa wruha yen wus dadi,

ingsun weruh pesti nora,

ngarani namanireki


Timbullah hasrat kehendak Allah menjadikan terwujudnya dirimu; dengan adanya wujud dirimu menunjukkan akan adanya Allah dengan sesungguhnya; Allah itu tidak mungkin ada dua apalagi tiga. Siapa yang mengetahui asal muasal kejadian dirinya, saya berani memastikan bahwa orang itu tidak akan membanggakan dirinya sendiri.


Sipat jamal ta puniku,

ingkang kinen angarani,

pepakane ana ika,

akon ngarani puniki,

iya Allah angandika,

mring Muhammad kang kekasih.


Adapun sifat jamal (sifat terpuji/bagus) itu ialah, sifat yang selalu berusaha menyebutkan, bahwa pada dasarnya adanya dirinya, karena ada yang mewujudkan adanya. Demikianlah yang difirmankan Allah kepada Nabi Muhammad yang menjadi Kekasih-Nya.


Yen tanana sira iku,

ingsun tanana ngarani,

mung sira ngarani ing wang,

dene tunggal lan sireki iya Ingsun iya sira,

aranira aran mami.


Kalau tidak ada dirimu, Allah tidak dikenal/disebut-sebut; Hanya dengan sebab ada kamulah yang menyebutkan keberadaan-Ku; Sehingga kelihatan seolah-olah satu dengan dirimu. Adanya AKU, Allah, menjadikan dirimu. Wujudmu menunjukkan adanya Dzatku.


Tauhid hidayat sireku,

tunggal lawan Sang Hyang Widhi,

tunggal sira lawan Allah,

uga donya uga akhir,

ya rumangsana pangeran,

ya ALLOH ana nireki.


Tauhid hidayah yang sudah ada padamu, menyatu dengan Tuhan. Menyatu dengan Allah, baik di dunia maupun di akherat. Dan kamu merasa bahwa Allah itu ada dalam dirimu.


Ruh idhofi neng sireku,

makrifat ya den arani,

uripe ingaranan Syahdat,

urip tunggil jroning urip sujud rukuk pangasonya,

rukuk pamore Hyang Widhi.


Ruh idhofi ada dalam dirimu. Makrifat sebutannya. Hidupnya disebut Syahadat (kesaksian), hidup tunggal dalam hidup. Sujud rukuk sebagai penghiasnya. Rukuk berarti dekat dengan Tuhan pilihan.


Sekarat tananamu nyamur,

ja melu yen sira wedi,

lan ja melu-melu Allah,

iku aran sakaratil,

ruh idhofi mati tannana,

urip mati mati urip.


Penderitaan yang selalu menyertai menjelang ajal (sekarat) tidak terjadi padamu. Jangan takut menghadapi sakratulmaut, dan jangan ikut-ikutan takut menjelang pertemuanmu dengan Allah. Perasaan takut itulah yang disebut dengan sekarat. Ruh idhofi tak akan mati; Hidup mati, mati hidup.


Liring mati sajroning ngahurip,

iya urip sajtoning pejah,

urip bae selawase,

kang mati nepsu iku,

badan dhohir ingkang nglakoni,

katampan badan kang nyata,

pamore sawujud, pagene ngrasa matiya,

Syekh Malaya (Sunan Kalijogo) den padhang sira nampani,

Wahyu prapta nugraha.


Mati di dalam kehidupan. Atau sama dengan hidup dalam kematian. Ialah hidup abadi. Yang mati itu nafsunya. Lahiriah badan yang menjalani mati. Tertimpa pada jasad yang sebenarnya. Kenyataannya satu wujud. Raga sirna, sukma mukhsa. Jelasnya mengalami kematian! Syeh Malaya (S.Kalijaga), terimalah hal ini sebagai ajaranku dengan hatimu yang lapang. Anugerah berupa wahyu akan datang padamu.

Dari wejangan tersebut kita bisa lebih mengenal GUSTI ALLAH dan seharusnya manusia tidak takut untuk menghadapi kematian. Disamping itu juga terdapat wejangan tentang bagaimana seharusnya semedi yang disebut “mati sajroning ngahurip” dan bagaimana dalam menjalani kehidupan di dunia ini


SUMBER : http://dartodinus.indowebsolution.com

Sastro Jendro Hayuningrat Panguwating Diyu

Dalam lakon wayang Purwa, kisah Ramayana bagian awal diceritakan asal muasal keberadaan Dasamuka atau Rahwana tokoh raksasa yang dikenal angkara murka, berwatak candala dan gemar menumpahkan darah. Dasamuka lahir dari ayah seorang Begawan sepuh sakti linuwih gentur tapanya serta luas pengetahuannya yang bernama Wisrawa dan ibu Dewi Sukesi yang berparas jelita tiada bandingannya dan cerdas haus ilmu kesejatian hidup. Bagaimana mungkin dua manusia sempurna melahirkan raksasa buruk rupa dan angkara murka ? Bagaimana mungkin kelahiran “ sang angkara murka “ justru berangkat dari niat tulus mempelajari ilmu kebajikan yang disebutSerat Sastrajendra.


Ilmu untuk Meraih Sifat Luhur Manusia


Salah satu ilmu rahasia para dewata mengenai kehidupan di dunia adalah Serat Sastrajendra. Secara lengkap disebut Serat Sastrajendrahayuningrat Pangruwatingdiyu. Serat = ajaran,Sastrajendra = Ilmu mengenai raja. Hayuningrat = Kedamaian.Pangruwating = Memuliakan atau merubah menjadi baik. Diyu = raksasa atau keburukan. Raja disini bukan harfiah raja melainkan sifat yang harus dimiliki seorang manusia mampu menguasai hawa nafsu dan pancainderanya dari kejahatan. Seorang raja harus mampu menolak atau merubah keburukan menjadi kebaikan. Pengertiannya bahwa Serat Sastrajendra adalah ajaran kebijaksanaan dan kebajikan yang harus dimiliki manusia untuk merubah keburukan mencapai kemuliaan dunia akhirat. Ilmu Sastrajendra adalah ilmu makrifat yang menekankan sifat amar ma’ruf nahi munkar, sifat memimpin dengan amanah dan mau berkorban demi kepentingan rakyat.


Gambaran ilmu ini adalah mampu merubah raksasa menjadi manusia. Dalam pewayangan, raksasa digambarkan sebagai mahluk yang tidak sesempurna manusia. Misal kisah prabu Salya yang malu karena memiliki ayah mertua seorang raksasa. Raden Sumantri atau dikenal dengan nama Patih Suwanda memiliki adik raksasa bajang bernama Sukrasana. Dewi Arimbi, istri Werkudara harus dirias sedemikian rupa oleh Dewi Kunti agar Werkudara mau menerima menjadi isterinya. Betari Uma disumpah menjadi raksesi oleh Betara Guru saat menolak melakukan perbuatan kurang sopan dengan Dewi Uma pada waktu yang tidak tepat. Anak hasil hubungan Betari Uma dengan Betara Guru lahir sebagai raksasa sakti mandra guna dengan nama “ Betara Kala “ (kala berarti keburukan atau kejahatan). Sedangkan Betari Uma kemudian bergelar Betari Durga menjadi pengayom kejahatan dan kenistaan di muka bumi memiliki tempat tersendiri yang ing dan gemar membantu terwujudnya kejahatan.

Melalui ilmu Sastrajendra maka simbol sifat sifat keburukan raksasa yang masih dimiliki manusia akan menjadi dirubah menjadi sifat sifat manusia yang berbudi luhur. Karena melalui sifat manusia ini kesempurnaan akal budi dan daya keruhanian mahluk ciptaan Tuhan diwujudkan. Dalam kitab suci disebutkan bahwa manusia adalah ciptaan paling sempurna. Bahkan ada disebutkan, Tuhan menciptakan manusia berdasar gambaran dzat-Nya. Filosof Timur Tengah Al Ghazali menyebutkan bahwa manusia seperti Tuhan kecil sehingga Tuhan sendiri memerintahkan para malaikat untuk bersujud. Sekalipun manusia terbuat dari dzat hara berbeda dengan jin atau malaikat yang diciptakan dari unsur api dan cahaya. Namun manusia memiliki sifat sifat yang mampu menjadi “ khalifah “ (wakil Tuhan di dunia).

Namun ilmu ini oleh para dewata hanya dipercayakan kepada Wisrawa seorang satria berwatak wiku yang tergolong kaum cerdik pandai dan sakti mandraguna untuk mendapat anugerah rahasia Serat Sastrajendrahayuningrat Diyu.


Ketekunan, ketulusan dan kesabaran Begawan Wisrawa menarik perhatian dewata sehingga memberikan amanah untuk menyebarkan manfaat ajaran tersebut. Sifat ketekunan Wisrawa, keihlasan, kemampuan membaca makna di balik sesuatu yang lahir dan kegemaran berbagi ilmu. Sebelum “ madeg pandita “ ( menjadi wiku ) Wisrawa telah lengser keprabon menyerahkan tahta kerajaaan kepada sang putra Prabu Danaraja. Sejak itu sang wiku gemar bertapa mengurai kebijaksanaan dan memperbanyak ibadah menahan nafsu duniawi untuk memperoleh kelezatan ukhrawi nantinya. Kebiasaan ini membuat sang wiku tidak saja dicintai sesama namun juga para dewata.


Sifat Manusia Terpilih


Sebelum memutuskan siapa manusia yang berhak menerima anugerah Sastra Jendra, para dewata bertanya pada sang Betara Guru. “ Duh, sang Betara agung, siapa yang akan menerima Sastra Jendra, kalau boleh kami mengetahuinya. “

Bethara guru menjawab “ Pilihanku adalah anak kita Wisrawa “. Serentak para dewata bertanya “ Apakah paduka tidak mengetahui akan terjadi bencana bila diserahkan pada manusia yang tidak mampu mengendalikannya. Bukankah sudah banyak kejadian yang bisa menjadi pelajaran bagi kita semua”

Kemudian sebagian dewata berkata “ Kenapa tidak diturunkan kepada kita saja yang lebih mulia dibanding manusia “.

Seolah menegur para dewata sang Betara Guru menjawab “Hee para dewata, akupun mengetahui hal itu, namun sudah menjadi takdir Tuhan Yang Maha Kuasa bahwa ilmu rahasia hidup justru diserahkan pada manusia. Bukankah tertulis dalam kitab suci, bahwa malaikat mempertanyakan pada Tuhan mengapa manusia yang dijadikan khalifah padahal mereka ini suka menumpahkan darah“. Serentak para dewata menunduk malu “ Paduka lebih mengetahui apa yang tidak kami ketahui”

Kemudian, Betara Guru turun ke mayapada didampingi Betara Narada memberikan Serat Sastra Jendra kepada Begawan Wisrawa.

“ Duh anak Begawan Wisrawa, ketahuilah bahwa para dewata memutuskan memberi amanah Serat Sastra Jendra kepadamu untuk diajarkan kepada umat manusia”

Mendengar hal itu, menangislah Sang Begawan “ Ampun, sang Betara agung, bagaimana mungkin saya yang hina dan lemah ini mampu menerima anugerah ini “.

Betara Narada mengatakan “ Anak Begawan Wisrawa, sifat ilmu ada 2 (dua). Pertama, harus diamalkan dengan niat tulus. Kedua, ilmu memiliki sifat menjaga dan menjunjung martabat manusia. Ketiga, jangan melihat baik buruk penampilan semata karena terkadang yang baik nampak buruk dan yang buruk kelihatan sebagai sesuatu yang baik. “ Selesai menurunkan ilmu tersebut, kedua dewata kembali ke kayangan.

Setelah menerima anugerah Sastrajendra maka sejak saat itu berbondong bondong seluruh satria, pendeta, cerdik pandai mendatangi beliau untuk minta diberi wejangan ajaran tersebut. Mereka berebut mendatangi pertapaan Begawan Wisrawa melamar menjadi cantrik untuk mendapat sedikit ilmu Sastra Jendra. Tidak sedikit yang pulang dengan kecewa karena tidak mampu memperoleh ajaran yang tidak sembarang orang mampu menerimanya. Para wiku, sarjana, satria harus menerima kenyataan bahwa hanya orang orang yang siap dan terpilih mampu menerima ajarannya.


Nun jauh, negeri Ngalengka yang separuh rakyatnya terdiri manusia dan separuh lainnya berwujud raksasa. Negeri ini dipimpin Prabu Sumali yang berwujud raksasa dibantu iparnya seorang raksasa yang bernama Jambumangli. Sang Prabu yang beranjak sepuh, bermuram durja karena belum mendapatkan calon pendamping bagi anaknya, Dewi Sukesi. Sang Dewi hanya mau menikah dengan orang yang mampu menguraikan teka teki kehidupan yang diajukan kepada siapa saja yang mau melamarnya. Sebelumnya harus mampu mengalahkan pamannya yaitu Jambumangli. Beribu ribu raja, wiku dan satria menuju Ngalengka untuk mengadu nasib melamar sang jelita namun mereka pulang tanpa hasil. Tidak satupun mampu menjawab pertanyaan sang dewi. Berita inipun sampailah ke negeri Lokapala, sang Prabu Danaraja sedang masgul hatinya karena hingga kini belum menemukan pendamping hati. Hingga akhirnya sang Ayahanda, Begawan Wisrawa berkenan menjadi jago untuk memenuhi tantangan puteri Ngalengka.


Pertemuan Dua Anak Manusia


Berangkatlah Begawan Wisrawa ke Ngalengka, hingga kemudian bertemu dengan dewi Sukesi. Senapati Jambumangli bukan lawan sebanding Begawan Wisrawa, dalam beberapa waktu raksasa yang menjadi jago Ngalengka dapat dikalahkan. Tapi hal ini tidak berarti kemenanmgan berada di tangan. Kemudian tibalah sang Begawan harus menjawab pertanyaan sang Dewi. Dengan mudah sang Begawan menjawab pertanyaan demi pertanyaan hingga akhirnya, sampailah sang dewi menanyakan rahasia Serat Sastrajendra. Sang Begawan pada mulanya tidak bersedia karena ilmu ini harus dengan laku tanpa “ perbuatan “ sia sialah pemahaman yang ada. Namun sang Dewi tetap bersikeras untuk mempelajari ilmu tersebut, toh nantinya akan menjadi menantunya.


Luluh hati sang Begawan, beliau mensyaratkan bahwa ilmu ini harus dijiwai dengan niat luhur. Keduanya kemudian menjadi guru dan murid, antara yangf mengajar dan yang diajar. Hari demi hari berlalu keduanya saling berinteraksi memahamkan hakikat ilmu. Sementara di kayangan, para dewata melihat peristiwa di mayapada. “ Hee, para dewata, bukankah Wisrawa sudah pernah diberitahu untuk tidak mengajarkan ilmu tersebut pada sembarang orang “.

Para dewata melaporkan hal tersebut kepada sang Betara Guru. “ Bila apa yang dilakukan Wisrawa, bisa nanti kayangan akan terbalik, manusia akan menguasai kita, karena telah sempurna ilmunya, sedangkan kita belum sempat dan mampu mempelajarinya “.

Sang Betara Guru merenungkan kebenaran peringatan para dewata tersebut. “ tidak cukup untuk mempelajari ilmu tanpa laku, Serat Sastrajendra dipagari sifat sifat kemanusiaan, kalau mampu mengatasi sifat sifat kemanusiaan baru dapat mencapai derajat para dewa. “ Tidak lama sang Betara menitahkan untuk memanggil Dewi Uma.untuk bersama menguji ketangguhan sang Begawan dan muridnya.


Hingga sesuatu ketika, sang Dewi merasakan bahwa pria yang dihadapannya adalah calon pendamping yang ditunggu tunggu. Biar beda usia namun cinta telah merasuk dalam jiwa sang Dewi hingga kemudian terjadi peristiwa yang biasa terjadi layaknya pertemuan pria dengan wanita. Keduanya bersatu dalam lautan asmara dimabukkan rasa sejiwa melupakan hakikat ilmu, guru, murid dan adab susila. Hamillah sang Dewi dari hasil perbuatan asmara dengan sang Begawan. Mengetahui Dewi Sukesi hamil, murkalah sang Prabu Sumali namun tiada daya. Takdir telah terjadi, tidak dapat dirubah maka jadilah sang Prabu menerima menantu yang tidak jauh berbeda usianya.


Tergelincir Dalam Kesesatan


Musibah pertama, terjadi ketika sang senapati Jambumangli yang malu akan kejadian tersebut mengamuk menantang sang Begawan. Raksasa jambumangli tidak rela tahta Ngalengka harus diteruskan oleh keturunan sang Begawan dengan cara yang nista. Bukan raksasa dimuliakan atau diruwat menjadi manusia. Namun Senapati Jambumangli bukan tandingan, akhirnya tewas ditangan Wisrawa. Sebelum meninggal, sang senapati sempat berujar bahwa besok anaknya akan ada yang mengalami nasib sepertinya ditewaskan seorang kesatria.

Musibah kedua, Prabu Danaraja menggelar pasukan ke Ngalengka untuk menghukum perbuatan nista ayahnya. Perang besar terjadi, empat puluh hari empat puluh malam berlangsung sebelum keduanya berhadapan. Keduanya berurai air mata, harus bertarung menegakkan harga diri masing masing. Namun kemudian Betara Narada turun melerai dan menasehati sang Danaraja. Kelak Danaraja yang tidak dapat menahan diri, harus menerima akibatnya ketika Dasamuka saudara tirinya menyerang Lokapala.

Musibah ketiga, sang Dewi Sukesi melahirkan darah segunung keluar dari rahimnya kemudian dinamakan Rahwana (darah segunung). Menyertai kelahiran pertama maka keluarlah wujud kuku yang menjadi raksasi yang dikenal dengan nama Sarpakenaka. Sarpakenaka adalah lambang wanita yang tidak puas dan berjiwa angkara, mampu berubah wujud menjadi wanita rupawan tapi sebenarnya raksesi yang bertaring. Kedua pasangan ini terus bermuram durja menghadapi musibah yang tiada henti, sehingga setiap hari keduanya melakukan tapa brata dengan menebus kesalahan. Kemudian sang Dewi hamil kembali melahirkan raksasa kembali. Sekalipun masih berwujud raksasa namun berbudi luhur yaitu Kumbakarna.


Akhir Yang Tercerahkan


Musibah demi musibah terus berlalu, keduanya tidak putus putus memanjatkan puaj dan puji ke hadlirat Tuhan yang Maha Kuasa. Kesabaran dan ketulusan telah menjiwa dalam hati kedua insan ini. Serat Sastrajendra sedikit demi sedikit mulai terkuak dalam hati hati yang telah disinari kebenaran ilahi. Hingga kemudian sang Dewi melahirkan terkahir kalinya bayi berwujud manusia yang kemudian diberi nama Gunawan Wibisana. Satria inilah yang akhirnya mampu menegakkan kebenaran di bumi Ngalengka sekalipun harus disingkirkan oleh saudaranya sendiri, dicela sebagai penghianat negeri, tetapi sesungguhnya sang Gunawan Wibisana yang sesungguhnya yang menyelamatkan negeri Ngalengka. Gunawan Wibisana menjadi simbol kebenaran mutiara yang tersimpan dalam Lumpur namun tetap bersinar kemuliaannya. Tanda kebenaran yang tidak larut dalam lautan keangkaramurkaan serta mampu mengalahkan keragu raguan seprti terjadi pada Kumbakarna. Dalam cerita pewayangan, Kumbakarna dianggap tidak bisa langsung masuk suargaloka karena dianggap ragu ragu membela kebenaran.

Melalui Gunawan Wibisana, bumi Ngalengka tersinari cahaya ilahiyang dibawa Ramawijaya dengan balatentara jelatanya yaitu pasukan wanara (kera). Peperangan dalam Ramayana bukan perebutan wanita berwujud cinta namun pertempuran demi pertempuran menegakkan kesetiaan pada kebenaran yang sejati.

Sekilas Tentang Sunan Kali Jaga

Dialah "wali" yang namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa. Ia lahir sekitar tahun 1450 Masehi. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban -keturunan dari tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe. Masa itu, Arya Wilatikta diperkirakan telah menganut Islam.

Nama kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Said. Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti Lokajaya,Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman.Terdapat beragam versi menyangkut asal-usul nama Kalijaga yang disandangnya.

Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati. Kalangan Jawa mengaitkannya dengan kesukaan wali ini untuk berendam (’kungkum’) di sungai (kali) atau "jaga kali". Namun ada yang menyebut istilah itu berasal dari bahasa Arab "qadli dzaqa" yang menunjuk statusnya sebagai "penghulu suci" kesultanan.

Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang "tatal" (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.

Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung "sufistik berbasis salaf" -bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah.

Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang.

Maka ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dialah pencipta Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga.

Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede - Yogya). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu -selatan Demak.