Tebing dan Bukit Dikesunyian.
Senja merah darah pengobat luka pertama
pada perempuan dibenih rindu yang semu
kerinduan perempuan
pada suara hatinya, ia sedang berbicara,
'jauh kusimpan rapat dalam lipatan dadaku, dan
jauh tersembunyi diangkuhnya tebing dari balik bukit,
dan hanya ingin jemput bahagia, digemetar samar bibirku'
namun tebing, dan bukit itu tak pernah mau tahu
kalau aku pernah menabur benih-benih tulus ditubuh mereka
Sekilas senja merah tua diufuk timur kelabu, tenggelam dalam kenangan
dimana lelakinya, berdandan rapi dan wewangian kesturi
terburu-buru mengejar waktu, hendak mengoyak tirai kalbu
karna musim panen tlah tiba bagi para pecinta sunyi!
dengan birahi yang tinggi dan hunus belati menusuk batu
imajinasi adalah suara jiwaku. terbuai bagai melayang memetik bintang
dikubah langit dengan arah terbalik, melahirkan anak kata sungsang
kurebahkan jiwaku, dipemusatan pikiran, logika tak berbanding
disetiap pecahan helaan nafas yang melirih
memenjarakan jiwa dalam sepi sampai membumi
ditubuh pucat pasih dan lemah kian merapuh
gemetaran dan menggigil tubuh, diparuh waktu
Malam gulita, adalah luka kedua
yang ditinggalkan bulan dan bintang
tanpa bisikan pesan rindu ditelinga
namun malam gulita kerap tiupkan seruling yang angkuh
nyaring, dari arah atas tebing dan barisan bukit-bukit
sampai berdenging-denging ditelinga, dan keluar darah!
bersamaan senandung duka, hujan turun deras hujam lantai
menambah kesunyian rasa membiru, dibasuh sepi tak bertepi
pada dingin didinding batu, jam sesaat berhenti, dan mati!
tanpa gemuruh didada dan rasa cemas, pelukis malam memuaskan birahi
mulai menertawakan sebuah mimpi, seperti jahanam disentuh mawar mati
mereka tak perduli pada ikrar janji! apalagi semedi diujung belati
karna pencela slalu berdusta ditangga rumah, serupa buah kuldi
dengan rakus kamu merampas surat perjanjian lama
antara kamu dan Tuhan, sebuah percintaan dengan berhala
mengupas setengah buah kuldi, pemuja ranum payudara
sebagai sesembahan pada kekasih hatimu; yang buta mata
malam gulita, adalah nyawaku
diatas tikar tubuhku menggelepar antara debu dan nafsu
tubuhku membangkai saat menyetubuhi pengantinku
jemarimu begitu lentik menari diatas tebing dan bukit
dan tubuhku melekat didadamu yang basah, karna api unggun
pecinta itu menyunting kekasih hatinya, dimalam gulita!
ia menyematkan cincin ditangkup kedua belah tanganya
sebagai bentuk pengabdian pada mempelai yang dicintainya
namun sebelum berbagi diparaduan, pecinta itu berkata
'duhai belahan hatiku, jangan kamu tuang semua isinya,
karna aku bisa gila, bila kamu tak membagi rata denganku'
kerinduan kita pun tertahan, ditangis pada luka ketiga.
0 komentar:
Posting Komentar
hal yang paling kucari adalah persaudara'an dan pengetahuan.
mohon komen di bawah posting suwun