" BABENA AZZAM - ALAM UNIK - ASTOBLOG.BLOGSPOT.COM " Alam Unik : Alam Unik : Alam Unik
http://blokosutoo-alamunik.blogspot.com/

Agustus 09, 2011

Jilbab Bukan Isu Agama Tapi Isu Politik


29 May 2009

Oleh: Didiet Adiputro

Acara Metro TV "WIMAR Live" yang membahas isu-isu aktual dimul;ai dengan episode pertama membahsa topik Politisasi Agama dengan Lily Zaakiyah Munir. Menjelang pemilihan presiden 2009 perang wacana, gagasan dan isu yang berkaitan dengan para kandidat begitu mengemuka dan tak terhindarkan lagi. Salah satu isu yang muncul belakangan ini adalah perbincangan mengenai penggunaan jilbab bagi istri para kandidat calon presiden dan calon wakil presiden.

Lily Zaakiyah Munir

Jilbab Bukan Isu Agama Tapi Isu Politik
Oleh: Didiet Adiputro
Menjelang pemilihan presiden 2009 perang wacana, gagasan dan isu yang berkaitan dengan para kandidat begitu mengemuka dan tak terhindarkan lagi. Salah satu isu yang muncul belakangan ini adalah perbincangan mengenai penggunaan jilbab bagi istri para kandidat calon presiden dan calon wakil presiden.
Isu ini demikian santer terdengar setelah beberapa politisi mendesak para istri capres dan cawapres untuk menggunakan kerudung atau jilbab agar bisa terlihat lebih merepresentasikan umat muslim Indonesia,. Bahkan alasan lainnya yang terdengar pragmatis yaitu pemakaian jilbab oleh para istri capres/cawapres diprediksi bisa meraup suara lebih banyak dari kalangan muslim..Apakah betul jilbab bisa menjadi satu –satunya ukuran tingkat ketaatan seorang muslim, atau hanya jadi alat politik semata? Hadir sebagai narasumber dalam acara Wimar Live seorang aktivis perempuan NU Lily Zakiyah Munir yang akan memberikan perspektif secara jernih mengenai hal ini,
Menurut Lily isu jilbab tidak bisa dikatakan sebagai politisasi agama karena jilbab terlalu kecil untuk merepresentasikan agama itu sendiri. Baginya Jilbab hanya salah satu bentuk kecil dari ekspresi keIslaman seseorang.yang ukurannya sangat relatif karena menyangkut kenyamanan dan kebebasan masing – masing individu .
Justru menurut Lily misi agama yang terpenting adalah bagaimana mewujudkan kesejehateraan, kedamaian, toleransi dan keadilan bagi umat. Hal itulah yang seharusnya menjadi isu utama yang perlu diperjuangkan. Bukannya justru meributkan masalah memakai jilbab atau tidak karena itu bukan hal pokok dari keberagama’an.
Ketua Pusat Studi Pesantren dan Demokrasi ini merasa tidak khawatir masyarakat akan banyak terpengaruh isu politisasi pemakaian jilbab ini, “Masyarakat kita mulai cerdas dan kritis sehingga tidak hanya melihat tingkat kesalehan seseorang hanya dengan pemakaian jilbab”, ujarnya.
Lewat pengalaman pribadinya dia bercerita tentang ibunya yang merupakan istri seorang kiai, tapi sejak kecil selalu memakai baju jawa dengan berkerudung biasa. Meskipun begitu tidak ada satu orangpun yang mengatakan sang ibu tidak religius . Jadi pakaian, jilbab ataupun simbol-simbol agama lainnya tidak bisa menjadi ukuran apakah seseorang beriman atau tidak. Apalagi Islam merupakan agama yang sangat lentur. “Jangankan jilbab, shalat saja banyak variasinya”, tutur mantan pimpinan muslimat NU ini.
So, marilah kita jadi pemilih cerdas yang tidak terjebak pada simbol-simbol dan lebih menekankan pada substansi. Kalau kata pepatah don’t judge a book by it’s cover .

Oleh: Didiet Adiputrooleh: Didiet AdiputroMenjelang pemilihan presiden 2009 perang wacana, gagasan dan isu yang berkaitan dengan para kandidat begitu mengemuka dan tak terhindarkan lagi. Salah satu isu yang muncul belakangan ini adalah perbincangan mengenai penggunaan jilbab bagi istri para kandidat calon presiden dan calon wakil presiden.

Isu ini demikian santer terdengar setelah beberapa politisi mendesak para istri capres dan cawapres untuk menggunakan kerudung atau jilbab agar bisa terlihat lebih merepresentasikan umat muslim Indonesia,. Bahkan alasan lainnya yang terdengar pragmatis yaitu pemakaian jilbab oleh para istri capres/cawapres diprediksi bisa meraup suara lebih banyak dari kalangan muslim..Apakah betul jilbab bisa menjadi satu –satunya ukuran tingkat ketaatan seorang muslim, atau hanya jadi alat politik semata? Hadir sebagai narasumber dalam acara Wimar Live seorang aktivis perempuan NU Lily Zakiyah Munir yang akan memberikan perspektif secara jernih mengenai hal ini,

Menurut Lily isu jilbab tidak bisa dikatakan sebagai politisasi agama karena jilbab terlalu kecil untuk merepresentasikan agama itu sendiri. Baginya Jilbab hanya salah satu bentuk kecil dari ekspresi keIslaman seseorang.yang ukurannya sangat relatif karena menyangkut kenyamanan dan kebebasan masing – masing individu .

Justru menurut Lily misi agama yang terpenting adalah bagaimana mewujudkan kesejehateraan, kedamaian, toleransi dan keadilan bagi umat. Hal itulah yang seharusnya menjadi isu utama yang perlu diperjuangkan. Bukannya justru meributkan masalah memakai jilbab atau tidak karena itu bukan hal pokok dari keberagama’an.

Ketua Pusat Studi Pesantren dan Demokrasi ini merasa tidak khawatir masyarakat akan banyak terpengaruh isu politisasi pemakaian jilbab ini, “Masyarakat kita mulai cerdas dan kritis sehingga tidak hanya melihat tingkat kesalehan seseorang hanya dengan pemakaian jilbab”, ujarnya.

Lewat pengalaman pribadinya dia bercerita tentang ibunya yang merupakan istri seorang kiai, tapi sejak kecil selalu memakai baju jawa dengan berkerudung biasa. Meskipun begitu tidak ada satu orangpun yang mengatakan sang ibu tidak religius . Jadi pakaian, jilbab ataupun simbol-simbol agama lainnya tidak bisa menjadi ukuran apakah seseorang beriman atau tidak. Apalagi Islam merupakan agama yang sangat lentur. “Jangankan jilbab, shalat saja banyak variasinya”, tutur mantan pimpinan muslimat NU ini.

So, marilah kita jadi pemilih cerdas yang tidak terjebak pada simbol-simbol dan lebih menekankan pada substansi. Kalau kata pepatah, "don’t judge a book by its cover ."

0 komentar:

Posting Komentar

hal yang paling kucari adalah persaudara'an dan pengetahuan.

mohon komen di bawah posting suwun